Menurut
artian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Eksistensialisme merupakan
aliran ilmu filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar
dan mana yang tidak benar. Sedangkan artian dari salah seorang tokoh bernama
Jean Paul Sartre adalah pandangan yang menyatakan bahwa eksistensi bukanlah
obyek dari berfikir abstrak atau pengalaman kognitif (akal pikiran), tetapi
merupakan eksistensi atau pengalaman langsung, bersifat pribadi dan dalam batin
individu.
Dari
artian di atas, merupakan pengertian umum dan pendapat tokoh. Masih ada
beberapa pendapat tokoh lainnya, seperti Soren Kierkegaard, Edmund Husserl,
Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, Nietzche.
Seorang
bayi yang baru dilahirkan ke dunia sudah dikatakan bahwa bayi tersebut seorang
eksistensi. Karena dari beberapa artikel dan bacaan yang penulis ketahui dan
menyimpulkan, bahwa Eksistensi merupakan keberadaan seseorang di atas dunia.
Maksudnya, Eksistensi menerangkan bahwa seseorang itu berhak menyatakan bahwa
ia seorang eksistensi. Dari sisi Jean Paul Sartre memaparkan beberapa
pemikirannya, salah satunya yaitu “Kebebasan”. Yang dimaksud kebebasan disini
yaitu manusia yang telah lahir hidup di dunia ini telah dinyatakan “bebas”,
karena ia telah berhak menentukan dan memutuskan mau dibawa kemana kehidupannya
kelak. Dari segi religius, Allah telah menentukan hidup tiap manusia. Mau dibawa
kemana kehidupan manusia kelak, ia (manusia) yang akan menjalankannya. Tetapi,
dari pemikiran dan pendapat Sartre, ia tidak mengakui Tuhan dan aliran
Eksistensialisme Sartre dikatakan atau digolongkan sebagai aliran pesimisme
(buruk) atau atheis.
Manusia
diutus ke dunia ini untuk mencari keberadaan (eksistensi) dan ia yang akan
menentukan keberadaan seperti apa yang akan dijalankannya. Kierkegaard
menyatakan ada 3 tahap bereksistensi, yaitu: tahap estetis (tahap menentukan
tindakan baik dan buruk), tahap etis (tahap seorang manusia telah mengetahui
dan mempertimbangkan baik atau jahat dalam sebuah tindakan), tahap religius
(tahap manusia memeluk kebenaran, menghayati hidup dengan penuh gairah). Pada
pemikiran Soren Kierkegaard, ia mendekati diri pada sebuah paham religius,
berbeda dengan Jean Paul Sartre.
Pada
pemikiran seorang Filsuf Eksistensialisme Nietzche pada konsepnya Übermensech
menerangkan bahwa membuat manusia yang lebih berani kuat, cerdas, dan hebat
sehingga manusia dapat lepas dari kehanyutan suatu hegemoni sehingga manusia
itu mampu mempunyai jati diri yang sesuai dengan dirinya dan ditentukan oleh
dirinya tanpa di kekang norma dan nilai yang berlaku. Sebab, norma dan nilai
diciptakan oleh manusia itu sendiri. Pada pandangan Nietzchhe ini,
mengungkapkan manusia itu haruslah menyadari siapa dirinya dan apa yang
diinginkannya sehingga ia akan cinta kehidupan. Untuk menjadi seorang yang
Übermensech, seseorang itu harus mempunyai keberanian untuk memusnahkan
nilai-nilai lama.
Eksistensialisme disisi lain juga
dapat dipahami sebagai reaksi kritis terhadap agama dan lembaga-lembaga politik
yang sudah tumbuh sebagai sebuah sistem. Contohnya, pada buku Panggung Teater Dunia (Yudiaryani)
memaparkan, Satre (1905-1980), merupakan tokoh eksistensialis terkenal, dimana
ia menolak kehadiran “Tuhan” yaitu arahan absolut yang diberlakukan pada
tatanan kemanusiaan, dan keabsahan kode-kode moral yang harus dipatuhi. Ia menyimpulkan bahwa ketika tak satu pun institusi
semacam gereja, negara, masyarakat yang membuat tatanan yang harus kita patuhi,
tidak dapat menjelaskan kegunaan dan standard tersebut, manusia “diwajibkan
bebas”. Manusia bebas untuk memilih nilai secara individu yang dapat memuaskan
kebutuhan dasarnya. Selanjutnya ia mengeluhkan bahwa hilangnya toleransi
terhadap nilai yang harus dianut oleh orang lain merupakan sikap imoral.
Satre yang mendukung ajaran tentang
kebebasan mutlak, akhirnya harus berhadapan dengan keterbatasan yang justru
mengurangi kebebasan manusia. Keterbatasan tersebut adalah:
- Kekuasaan orang lain. Dimana pada karya Satre Les Mains Sales berceritakan bagaimana kekuasaan orang lain akan mempengaruhi dan membatasi eksistensi seseorang. Untuk itulah diperlukan kemerdekaan manusia sebagai cara seseorang melepaskan diri dari pengaruh dan tekanan orang lain.
- Kematian. Dimana kematian ini merupakan hal yang tak dapat dipahami oleh pikiran manusia, dan juga tak terelakkan serta tak terduga kehadirannya. Dan kematian merupakan suatu kepastian tiap orang yang hidup. Karena manusia tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian.
Dari poin pertama dapat saya
simpulkan, bahwa seseorang yang ingin bebas dan tidak ingin lagi akan adanya
hal yang terikat, dipengaruhi dan dibatasi oleh yang namanya kekuasaan. Dimana
seseorang ditekan dan dipengaruhi untuk suatu kekuasaan itu. Maka dari itu,
Satre dengan suatu konsepnya ini menjadi suatu gerakan intelektual pada tahun
1950-an, setelah PD II.
Dalam kondisi inilah,
Eksistensialisme memberi sumbangan bagi manusia untuk menemukan jati dirinya.
Paham eksistensialisme mengungkapkan otentisitas keinginan manusia yang
mendasar, dan keinginan manusia untuk bebas memilih, serta bebas mencipta nilai
bagi diri mereka sendiri.
Ada suatu paham dan ini sering juga
terpengaruh oleh kaidah Sokrates (kenalilah dirimu lewat dirimu), dimana aliran
filsafat Stoicisme, pergerakan yang
mengkampanyekan atheisme dan liberalisme. Pada saat PD II, dimana persaan takut
terhadap kefatalan saat itu, memunculkan suatu aliran eksistensialisme dengan
cepat, dimana malapetaka PD II dan kehancuran dunia akibat perang merupakan
pengalaman pahit yang harus ditelan kemanusiaan, iklim seperti ini sangat
mendukung lahirnya paham eksistensialisme dengan paksaan dan interprestasinya
(pandangan), perasaan yang gundah dalam jiwa manusia merasa bahwa alam menuju
kehancuran). Dan untuk itulah mereka mengklaim bahwa eksistensi sejati hanya
milik manusia, pada gilirannya ia bebas menciptakan dan memilih sesuatu
sekehendaknya.

No comments:
Post a Comment