Tuesday, December 26, 2017

SECUIL TENTANG EKSISTENSIALISME

     Menurut artian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Eksistensialisme merupakan aliran ilmu filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sedangkan artian dari salah seorang tokoh bernama Jean Paul Sartre adalah pandangan yang menyatakan bahwa eksistensi bukanlah obyek dari berfikir abstrak atau pengalaman kognitif (akal pikiran), tetapi merupakan eksistensi atau pengalaman langsung, bersifat pribadi dan dalam batin individu. 

   Dari artian di atas, merupakan pengertian umum dan pendapat tokoh. Masih ada beberapa pendapat tokoh lainnya, seperti Soren Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, Nietzche. 



Seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia sudah dikatakan bahwa bayi tersebut seorang eksistensi. Karena dari beberapa artikel dan bacaan yang penulis ketahui dan menyimpulkan, bahwa Eksistensi merupakan keberadaan seseorang di atas dunia. Maksudnya, Eksistensi menerangkan bahwa seseorang itu berhak menyatakan bahwa ia seorang eksistensi. Dari sisi Jean Paul Sartre memaparkan beberapa pemikirannya, salah satunya yaitu “Kebebasan”. Yang dimaksud kebebasan disini yaitu manusia yang telah lahir hidup di dunia ini telah dinyatakan “bebas”, karena ia telah berhak menentukan dan memutuskan mau dibawa kemana kehidupannya kelak. Dari segi religius, Allah telah menentukan hidup tiap manusia. Mau dibawa kemana kehidupan manusia kelak, ia (manusia) yang akan menjalankannya. Tetapi, dari pemikiran dan pendapat Sartre, ia tidak mengakui Tuhan dan aliran Eksistensialisme Sartre dikatakan atau digolongkan sebagai aliran pesimisme (buruk) atau atheis.

Manusia diutus ke dunia ini untuk mencari keberadaan (eksistensi) dan ia yang akan menentukan keberadaan seperti apa yang akan dijalankannya. Kierkegaard menyatakan ada 3 tahap bereksistensi, yaitu: tahap estetis (tahap menentukan tindakan baik dan buruk), tahap etis (tahap seorang manusia telah mengetahui dan mempertimbangkan baik atau jahat dalam sebuah tindakan), tahap religius (tahap manusia memeluk kebenaran, menghayati hidup dengan penuh gairah). Pada pemikiran Soren Kierkegaard, ia mendekati diri pada sebuah paham religius, berbeda dengan Jean Paul Sartre.

Pada pemikiran seorang Filsuf Eksistensialisme Nietzche pada konsepnya Übermensech menerangkan bahwa membuat manusia yang lebih berani kuat, cerdas, dan hebat sehingga manusia dapat lepas dari kehanyutan suatu hegemoni sehingga manusia itu mampu mempunyai jati diri yang sesuai dengan dirinya dan ditentukan oleh dirinya tanpa di kekang norma dan nilai yang berlaku. Sebab, norma dan nilai diciptakan oleh manusia itu sendiri. Pada pandangan Nietzchhe ini, mengungkapkan manusia itu haruslah menyadari siapa dirinya dan apa yang diinginkannya sehingga ia akan cinta kehidupan. Untuk menjadi seorang yang Übermensech, seseorang itu harus mempunyai keberanian untuk memusnahkan nilai-nilai lama.

Eksistensialisme disisi lain juga dapat dipahami sebagai reaksi kritis terhadap agama dan lembaga-lembaga politik yang sudah tumbuh sebagai sebuah sistem. Contohnya, pada buku Panggung Teater Dunia (Yudiaryani) memaparkan, Satre (1905-1980), merupakan tokoh eksistensialis terkenal, dimana ia menolak kehadiran “Tuhan” yaitu arahan absolut yang diberlakukan pada tatanan kemanusiaan, dan keabsahan kode-kode moral yang harus dipatuhi. Ia menyimpulkan bahwa ketika tak satu pun institusi semacam gereja, negara, masyarakat yang membuat tatanan yang harus kita patuhi, tidak dapat menjelaskan kegunaan dan standard tersebut, manusia “diwajibkan bebas”. Manusia bebas untuk memilih nilai secara individu yang dapat memuaskan kebutuhan dasarnya. Selanjutnya ia mengeluhkan bahwa hilangnya toleransi terhadap nilai yang harus dianut oleh orang lain merupakan sikap imoral.

Satre yang mendukung ajaran tentang kebebasan mutlak, akhirnya harus berhadapan dengan keterbatasan yang justru mengurangi kebebasan manusia. Keterbatasan tersebut adalah:
  • Kekuasaan orang lain. Dimana pada karya Satre Les Mains Sales berceritakan bagaimana kekuasaan orang lain akan mempengaruhi dan membatasi eksistensi seseorang. Untuk itulah diperlukan kemerdekaan manusia sebagai cara seseorang melepaskan diri dari pengaruh dan tekanan orang lain.
  • Kematian. Dimana kematian ini merupakan hal yang tak dapat dipahami oleh pikiran manusia, dan juga tak terelakkan serta tak terduga kehadirannya. Dan kematian merupakan suatu kepastian tiap orang yang hidup. Karena manusia tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian.

Dari poin pertama dapat saya simpulkan, bahwa seseorang yang ingin bebas dan tidak ingin lagi akan adanya hal yang terikat, dipengaruhi dan dibatasi oleh yang namanya kekuasaan. Dimana seseorang ditekan dan dipengaruhi untuk suatu kekuasaan itu. Maka dari itu, Satre dengan suatu konsepnya ini menjadi suatu gerakan intelektual pada tahun 1950-an, setelah PD II.

Dalam kondisi inilah, Eksistensialisme memberi sumbangan bagi manusia untuk menemukan jati dirinya. Paham eksistensialisme mengungkapkan otentisitas keinginan manusia yang mendasar, dan keinginan manusia untuk bebas memilih, serta bebas mencipta nilai bagi diri mereka sendiri.

Ada suatu paham dan ini sering juga terpengaruh oleh kaidah Sokrates (kenalilah dirimu lewat dirimu), dimana aliran filsafat Stoicisme,  pergerakan yang mengkampanyekan atheisme dan liberalisme. Pada saat PD II, dimana persaan takut terhadap kefatalan saat itu, memunculkan suatu aliran eksistensialisme dengan cepat, dimana malapetaka PD II dan kehancuran dunia akibat perang merupakan pengalaman pahit yang harus ditelan kemanusiaan, iklim seperti ini sangat mendukung lahirnya paham eksistensialisme dengan paksaan dan interprestasinya (pandangan), perasaan yang gundah dalam jiwa manusia merasa bahwa alam menuju kehancuran). Dan untuk itulah mereka mengklaim bahwa eksistensi sejati hanya milik manusia, pada gilirannya ia bebas menciptakan dan memilih sesuatu sekehendaknya.

No comments:

Post a Comment

SENJA YANG RENTA

SENJA YANG RENTA Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh...