Cerita ini masih bekisar tentang pemuda yang penuh dengan cerita banyolan dan kebohongan belakanya, Tomok. Kali ini ia kembali mulai menceritakan tentang kebohongan belakanya pada seorang polisi jalanan. Mari, kita baca ceritanya.
Pada suatu hari, Tomok dan temannya yang bernama Ijal dan anaknya pergi berdua
naik kendaraan motor. Mereka berdua hendak pergi ke Mall untuk membeli sendal
jepit Tomok yang putus di curi oleh anjing Pak Regar tetangga kampung sebelah.
Suatu ketika, mereka hendak memasuki area jalan raya. Pada saat sudah memasuki
jalan raya, Ijal terkejut melihat Tomok yang tidak memakai helm.
“Mok, mana helm kau?”, tanya Ijal
kepada Tomok.
“Aih, ngapo pulo pakai helm, tak
payah lah.” , jawab Tomok.
“Tak payah macam mana sekarang
ni, kita di jalan raya Mok. Engkau tahulah polisi banyak di jalan raya mencari
nafkah untuk bininya. Engkau tu mengundang polisi melihat kita sekarang.”, kata
Ijal yang sedikit agak kesal.
“Dikau kesal dengan aku, kenapo
dikau tak kesal jugo dengan anak dikau yang tertido tu? Diokan tak pakai helem
jugo. Makonyo aku tak berhelem, sebab aku lihat anak engkau tu tak pakai helem.
Kang plesing jugo dikau ni, hah.”, jawab Tomok dengan santai.
“Alahmak jang. Kenapa kau tiru
anak aku ni. Dah tahu dia anak kecil baru berumur jagung, kau tiru pula. Kau tu
dah besar Mok, dah pandai buat anak kenapa pemikiran kau masih begitu juga.
Aduh..aku tak ada uang pula ni Mok, mau mutar di depan ada polis pula.”, kata
Ijal dengan cemas dan kesal.
“Hahahaha, tak payahlah, Jal.
Lewat ajolah, bio aku cakap pado polisi tu. Macam tak tahu beno aku
ni siapo.”, kata Tomok dengan
gaya berwibawa.
Tak lama kemudian akhirnya mereka melewati pos polisi. Tetapi, mereka tidak
lewat dengan free, mereka dilihat oleh polisi dan mengejar mereka. Saat polisi
berada di samping mereka, Tomok mulai berulah.
“Maaf, tolong motor anda minggir
ke tepi dahulu.” , kata polisi sambil memutarkan motornya ke tepi
jalan.
“Ada apa ya, pak?” , tanya Ijal
yang pura-pura tidak tahu.
“Maaf, anda melanggar peraturan
lalu lintas, karena penumpang anda tidak memakai persyaratan lalu lintas.”,
jawab polisi.
“Aih, ado pulo persyaratan lalu
lintas yo, Cik?” , tanya Tomok.
“Bisakah anda memperlihatkan SIM
dan STNK anda?”, tanya polisi.
“Aduh pak, hanya tidak pakai helm
saja masa kami harus di tahan beginian.” , kata Ijal.
“Cik, kami-kami ni nak ke Rumah
Sakit. Beriba hatilah Cik, anak ni tadi kejang-kejang di Jalan Cik Puan, ha
cubo Cik bayangkan, macam mano kalau anak pak Cik kejang-kejang, apo Cik
kepikiran pado helem? Tak sempat bepikir do, Cik. Aih kasihan budak anak Ijal
ni.”, sambil mengelus anak Ijal yang sedang tertidur puas.
“Tetapi peraturan harus dilakukan,
Pak. Kami sebagai Polantas harus mematuhinya. Jika anda mengenakan helm, tidak
akan terjadi seperti ini.” , kata polisi dengan tegas.
“Kan, dah sayo katokan tadi,
macam mano nak pakai helem, Cik, anak ni dah kejang-kejang, badan panas pulo
lagi. Mau Pak Cik tanggung anak ni kalau dio Setep?”, kata Tomok sambil mengendong
anaknya Ijal.
“Setep? Apa itu setep?”, tanya
polisi.
“Ah, maksud dia pak, Step mungkin
pak. Hah ya step yang penyakit kejang-kejang mengeluarkan busa dari mulut tu,
pak.” , perjelas Ijal.
“Alah, macam cikgu pulo dikau ni,
salah satu kato ajo di permasalahkan. Hah, jadi pak Cik Polisi Polantitas? Now,
Apo kesah sekarang ni, nak nunggu budak kecik ni Ko’it yang doso ditanggung
samo pak Cik, atau mendapat pahalo dah nolong budak ni?”, Tomok semakin mulai
marah pada polisi tersebut.
“Maaf pak, tapi peraturan....”,
kata polisi yang gugup dan disambut langsung dengan Tomok.
“Peraturan apo lagi ni Cik, tak
kasihan Cik dengan budak satu ni? Jike dio Ko’it alias Died alias mati, aku tak
segan nak terajang pak Cik, biolah pak Cik pangkat beso yang penuh
bintang-bintang garis tu, hah. Mano pak cik pilih? Jawab sekarang jangan lamo-lamo,
kang mengamuk pulo aku.” Marah Tomok menjadi-jadi. Polisi pun bingung dan
menelpon ketua pos tempat ia jaga, dan di setujui oleh ketuanya.
“Baiklah kalau begitu, pak. Saya
persilahkan bapak untuk melanjutkan perjalanannya agar anak ini selamat dari
penyakit kejang-kejangnya. Dan juga sekali lagi saya minta maaf telah
memperlambat perjalanan bapak ke rumah sakit, lain kali pakailah helmnya saat
di jalan raya, guna menyelamatkan anda dari kecelakaan khususnya pada kepala.
Sekarang silahkan bapak melanjutkan perjalanan.” Tegas polisi pada Tomok dan
Ijal.
“Hah, gitu donk pak dari tadi
kenapa sih. Kasihan anak saya ini.” , kata Ijal pada pak polisi.
“Terimokasih yo Cik, semoge amal
dan ibadah pak Cik Polisi diterima oleh Allah. Amin. Kalau begitu, kami nak
pergi dulu, nampaknyo dah mulai ado gejalo lagi pada anak ni. Yo pak Cik,
terimokasih?”, kata Tomok pada polisi sambil menaikan anak Ijal di atas motor.
“Ya, pak sama-sama. Hati-hati pak
dan juga ikuti aturan rambu-rambu lalu lintasnya, pak.”, pak polisi pun mulai
berangkat.
“Mantap juga ide kau ya,
Mok? Tak percaya aku dengan ide gila kau tadi. Tapi, tak sedap pula anak aku
yang jadi bahan topik pembincangan kebohongan belaka tadi.” Kata Ijal.
“Tak apolah, dari pado uang awak
keno sembat oleh pak Cik Polis tadi. Hidup tu harus pandai-pandai wak. Kalau
diharap dari dikau tak ado do, namo ajo Ijal, indak jaleh.” , kata Tomok sambil
mencemeeh Ijal.
“Biasa ajalah, jangan nama pula
yang jadi bahan ejekan, tidak boleh dalam aturan ibu-ibu rumah tangga. Dahlah,
pergi kita lagi.” Kata Ijal sambil menghidupkan motornya yang hendak mulai
pergi.
Ketika motor sudah di hidupkan, mereka berdua pun pergi berangkat sambil
berpamitan pada polisi tadi. Disaat mereka sudah jalan, polisi pun mulai pergi
dan sekilas polisi itu melihat BM mereka yang pajaknya sudah mati, hingga
akhirnya polisi tersebut pergi mengejar mereka lagi.
Pekanbaru, 4 Maret 2013

No comments:
Post a Comment