Tuesday, December 26, 2017

KEJANG-KEJANG POLISI



Cerita ini masih bekisar tentang pemuda yang penuh dengan cerita banyolan dan kebohongan belakanya, Tomok. Kali ini ia kembali mulai menceritakan tentang kebohongan belakanya pada seorang polisi jalanan. Mari, kita baca ceritanya.

Pada suatu hari, Tomok dan temannya yang bernama Ijal dan anaknya pergi berdua naik kendaraan motor. Mereka berdua hendak pergi ke Mall untuk membeli sendal jepit Tomok yang putus di curi oleh anjing Pak Regar tetangga kampung sebelah. Suatu ketika, mereka hendak memasuki area jalan raya. Pada saat sudah memasuki jalan raya, Ijal terkejut melihat Tomok yang tidak memakai helm.

“Mok, mana helm kau?”, tanya Ijal kepada Tomok.

“Aih, ngapo pulo pakai helm, tak payah lah.” , jawab Tomok.

“Tak payah macam mana sekarang ni, kita di jalan raya Mok. Engkau tahulah polisi banyak di jalan raya mencari nafkah untuk bininya. Engkau tu mengundang polisi melihat kita sekarang.”, kata Ijal yang sedikit agak kesal.

“Dikau kesal dengan aku, kenapo dikau tak kesal jugo dengan anak dikau yang tertido tu? Diokan tak pakai helem jugo. Makonyo aku tak berhelem, sebab aku lihat anak engkau tu tak pakai helem. Kang plesing jugo dikau ni, hah.”, jawab Tomok dengan santai.

“Alahmak jang. Kenapa kau tiru anak aku ni. Dah tahu dia anak kecil baru berumur jagung, kau tiru pula. Kau tu dah besar Mok, dah pandai buat anak kenapa pemikiran kau masih begitu juga. Aduh..aku tak ada uang pula ni Mok, mau mutar di depan ada polis pula.”, kata Ijal dengan cemas dan kesal.

“Hahahaha, tak payahlah, Jal. Lewat ajolah, bio aku cakap pado polisi tu. Macam tak tahu beno aku
ni siapo.”, kata Tomok dengan gaya berwibawa.

Tak lama kemudian akhirnya mereka melewati pos polisi. Tetapi, mereka tidak lewat dengan free, mereka dilihat oleh polisi dan mengejar mereka. Saat polisi berada di samping mereka, Tomok mulai berulah.

“Maaf, tolong motor anda minggir ke tepi dahulu.” , kata polisi sambil memutarkan motornya ke tepi
jalan.

“Ada apa ya, pak?” , tanya Ijal yang pura-pura tidak tahu.

“Maaf, anda melanggar peraturan lalu lintas, karena penumpang anda tidak memakai persyaratan lalu lintas.”, jawab polisi.

“Aih, ado pulo persyaratan lalu lintas yo, Cik?” , tanya Tomok.

“Bisakah anda memperlihatkan SIM dan STNK anda?”, tanya polisi.

“Aduh pak, hanya tidak pakai helm saja masa kami harus di tahan beginian.” , kata Ijal.

“Cik, kami-kami ni nak ke Rumah Sakit. Beriba hatilah Cik, anak ni tadi kejang-kejang di Jalan Cik Puan, ha cubo Cik bayangkan, macam mano kalau anak pak Cik kejang-kejang, apo Cik kepikiran pado helem? Tak sempat bepikir do, Cik. Aih kasihan budak anak Ijal ni.”, sambil mengelus anak Ijal yang sedang tertidur puas.

“Tetapi peraturan harus dilakukan, Pak. Kami sebagai Polantas harus mematuhinya. Jika anda mengenakan helm, tidak akan terjadi seperti ini.” , kata polisi dengan tegas.

“Kan, dah sayo katokan tadi, macam mano nak pakai helem, Cik, anak ni dah kejang-kejang, badan panas pulo lagi. Mau Pak Cik tanggung anak ni kalau dio Setep?”, kata Tomok sambil mengendong anaknya Ijal.

“Setep? Apa itu setep?”, tanya polisi.

“Ah, maksud dia pak, Step mungkin pak. Hah ya step yang penyakit kejang-kejang mengeluarkan busa dari mulut tu, pak.” , perjelas Ijal.

“Alah, macam cikgu pulo dikau ni, salah satu kato ajo di permasalahkan. Hah, jadi pak Cik Polisi Polantitas? Now, Apo kesah sekarang ni, nak nunggu budak kecik ni Ko’it yang doso ditanggung samo pak Cik, atau mendapat pahalo dah nolong budak ni?”, Tomok semakin mulai marah pada polisi tersebut.
“Maaf pak, tapi peraturan....”, kata polisi yang gugup dan disambut langsung dengan Tomok.

“Peraturan apo lagi ni Cik, tak kasihan Cik dengan budak satu ni? Jike dio Ko’it alias Died alias mati, aku tak segan nak terajang pak Cik, biolah pak Cik pangkat beso yang penuh bintang-bintang garis tu, hah. Mano pak cik pilih? Jawab sekarang jangan lamo-lamo, kang mengamuk pulo aku.” Marah Tomok menjadi-jadi. Polisi pun bingung dan menelpon ketua pos tempat ia jaga, dan di setujui oleh ketuanya.

“Baiklah kalau begitu, pak. Saya persilahkan bapak untuk melanjutkan perjalanannya agar anak ini selamat dari penyakit kejang-kejangnya. Dan juga sekali lagi saya minta maaf telah memperlambat perjalanan bapak ke rumah sakit, lain kali pakailah helmnya saat di jalan raya, guna menyelamatkan anda dari kecelakaan khususnya pada kepala. Sekarang silahkan bapak melanjutkan perjalanan.” Tegas polisi pada Tomok dan Ijal.

“Hah, gitu donk pak dari tadi kenapa sih. Kasihan anak saya ini.” , kata Ijal pada pak polisi.

“Terimokasih yo Cik, semoge amal dan ibadah pak Cik Polisi diterima oleh Allah. Amin. Kalau begitu, kami nak pergi dulu, nampaknyo dah mulai ado gejalo lagi pada anak ni. Yo pak Cik, terimokasih?”, kata Tomok pada polisi sambil menaikan anak Ijal di atas motor.

“Ya, pak sama-sama. Hati-hati pak dan juga ikuti aturan rambu-rambu lalu lintasnya, pak.”, pak polisi pun mulai berangkat.

 “Mantap juga ide kau ya, Mok? Tak percaya aku dengan ide gila kau tadi. Tapi, tak sedap pula anak aku yang jadi bahan topik pembincangan kebohongan belaka tadi.” Kata Ijal.

“Tak apolah, dari pado uang awak keno sembat oleh pak Cik Polis tadi. Hidup tu harus pandai-pandai wak. Kalau diharap dari dikau tak ado do, namo ajo Ijal, indak jaleh.” , kata Tomok sambil mencemeeh Ijal.

“Biasa ajalah, jangan nama pula yang jadi bahan ejekan, tidak boleh dalam aturan ibu-ibu rumah tangga. Dahlah, pergi kita lagi.” Kata Ijal sambil menghidupkan motornya yang hendak mulai pergi.

Ketika motor sudah di hidupkan, mereka berdua pun pergi berangkat sambil berpamitan pada polisi tadi. Disaat mereka sudah jalan, polisi pun mulai pergi dan sekilas polisi itu melihat BM mereka yang pajaknya sudah mati, hingga akhirnya polisi tersebut pergi mengejar mereka lagi.




Pekanbaru, 4 Maret 2013


No comments:

Post a Comment

SENJA YANG RENTA

SENJA YANG RENTA Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh...