Suatu ketika, ada 2 orang wartawan ingin bertanya kepada Tomok si pembual dalam cerita bodohnya demi kesenangan orang-orang di sekitarnya. Dua wartawan ini tidak mengetahui dan menyadari bahwa Tomok yang di wawancarainya nanti ini merupakan pemuda yang si pembual dengan cerita bodohnya. Ketika mereka berdua wartawan ini hendak mencari rumah Tomok yang tak ketemu-ketemu selama 2 jam, lalu mereka bertanya dengan warga yang berlalu lalang.
“Permisi, mas. Maaf, mengganggu
sebentar. Kami ingin bertanya alamat ini di mana ya?”, menunjukan secarik
kertas kepada warga yang lalu lalang tadi. Warga pun menjawab sambil ketawa,
“hahaha di sini tak ado alamat
yang bernamo Gg. Presiden, Cik. Yang ado Gg. Senggol, Gg. Buntu, Gg. Nam
Stelon, Gg. Gang 4. Manolak ado Gg. Presiden, baru dengo namo gang macam tu.
Hm, tapi cik klu namo presiden saye tahu cik. Presiden kita saat ini Pak Joko Widodo,
yang di pendek namokan JOKOWI, cik...”.
Dua wartawan pun bingung dengan
apa yang ia bicarakan, hingga mereka bertanya lagi:
“eehh...mas..mas...klu nama
presiden saya tahu siapa mas, malahan sampai anak, cucu, cicik, kakek buyutnya
saya tahu mas. Kami ini datang dari Jakarta mas, dan ingin mencari seseorang
yang mengirim surat ini mas. Hm..mungkin mas tahu, ini tulisan siapa atau
namanya ada di surat ini mas.”
Wartawan tadi menunjukan surat tersebut pada
warga tadi, dan warga tadi pun melihat secarik kertas tadi dengan
seksama.
“Hm...bagaimana mas, apakah mas
tahu siapa orangnya?” tanya wartawan.
“Kejap dulu....tak boleh
menggaduh orang sedang membaco.” Kata warga. Serius tapi tak pasti warga
tersebut melihat dengan wajah heran pada wartawan tersebut.
“Pak...eh mas, bagaimana apakah
anda sudah mengetahuinya. Hm...dimana rumah orang yang menulis surat ini?”
“Saye....hm...saye tak paham pade
tulisan di kertas itu lah, cik. Apelagi saye belum tamat sd, susah membaconyo.
Apo tulisannyo tu pak cik?” jawab warga dengan wajah bingung.
Wartawan pun mulai emosi, karena
waktunya telah termakan oleh kelinglungan warga tadi.
“Eh..bung, kirain loe bisa tahu
surat ini dari siapanya, rupa-rupanya loe gak tahu segalanya. Huh, dasar. Ya
sudah bung (pada temannya) kita berangkat lagi, habis waktu kita sama dia.”
“Eh pak cik, walau pun saye tak
pandai membaco, tapi istri saye banyak pak cik. Hahaha....begini-begini orang
kayo jugo ni pak cik. Puah sisieh...budak sekarang tak tahu terimokasih. Ajap
waktu awak habis.” Kata warga sambil menggerutu.
Setelah menghabiskan waktu yang tak ada hasilnya pada warga tadi, mereka masih
terus mencari alamat rumah Tomok yang tak kunjung dapat-dapat. Saat mereka mencari-cari
mereka hampir menabrak seseorang pemuda. Dan pemuda yang hampir di tabrak tadi
menyuruh mereka keluar.
“Woi...keluo dikau dari kat (car) tu. Tak keluo jugo kang aku
banting, aku terajang kang dengan kasut swalow aku ha...macam-macam dikau samo
aku..ha..kan besungut pulak aku jadinyo...”, warga pun datang melihat Tomok
mengamuk tak tentu arah pada mobil wartawan. Dua wartawan pun keluar dari
mobilnya, dan meminta maaf pada Tomok.
“aduh...ma..maaf-maaf-maaf ya,
mas. Kami tak sengaja. Kami tak melihat kalau ada orang lewat tadi. Ini
kesalahan kami, karena kami sedang mencari alamat seseorang.” Kata wartawan
pada Tomok dengan bersalaman.
“Siapo yang ngajo dikau naik kat
ni? Miko ingin nak matikan aku? miko beduo macam cacing keno panas ajo samo
dengan kat dikau ni. Sempat ado polisi, kang panjang pekaro miko beduo. (pada
warga) sudah-sudah aku tak apo-apo, selamat lahir batin. Bio aku urus budak
beduo ni. Dah-dah...besurai lagi...suuhh..”
“hm....Mas, tak terlukakan?”
tanya wartawan.
“aku mano lah gampang terluko.
Dikau tumbok aku, kang bedaghah tu muke.”
“kenapa bisa begitu mas?” tanya
wartawan.
“bise lah.”
“hm...mang ada jurusnya ya, mas?
“adolah. Cumo aku ajo yang punyo.
Tu jurus dari abah aku.”
“hm apa nama jurusnya mas?” tanya
wartawan dengan heran.
“namonyo jurusnyo buluh lembek.”
“kok buluh lembek, mas?” tanya
heran lagi.
“yo, lah. Jiko di tumbok pasti
lah membalas, makonyo aku tumbok dengan buluh hinggo lembek. Mano ado orang
keno tumbok menung ajo. (mikir) apo kesah ni miko beduo nak malingkan perkaro
dari aku? miko ni dari mano, macam muko asing di kampung ni lah miko-miko ni.”
Tanya Tomok dengan heran.
“maaf mas, kami gak ada maksud
jahat apa lagi lari dari perkara masalah kami tadi. Mas kan gak ada terluka
jadi damai-damai aja yah mas? Bisakan, mas?” tanya wartawan sambil memohon.
“Idih...puah sisieh. Aku ni punyo
namo, dan namo aku bukan mas-mas. Dikau kiro aku ni mas karatan, hah? Geli aku
dipanggil dengan namo macam tu. Panggil ajo aku Tomok. Yu disten? Ha macam tu
lah bahaso kampungaku”.
Dengan wajah gembira dan lega, akhirnya mereka menemukan orang yang
dicari-cari.
“Alhamdulillah, bapak yang
bernama Tomok itu ya?” tanya wartawan dengan senang.
“yo, mang kenapo? Biaso ajolah
muke miko beduo tu. Macam baru ketemu om Bama jo. Oh...mungkin miko nak ketemu
om Bama ye? Dua wartawan pun heran.
“maaf bg Tomok, om Bama siapa ya? Teman
abang?”
“cekacekaceka.....wawasan miko
beduo ni, macam cangkang bekicot. Baru semalam aku dilantik oleh om Bama dari
yu..yu...lupo aku namonyo. Ha yang uangnyo dollar.”
“Oh USA bang, Amerika. Mungkin
maksud abang Presiden Barack Obama ya?
“Tak boleh dikau panggil namo
orang macam tu, marah orang tuo tu hah tahu raso dikau. Aku ajo teman satu
partainyo tak berani panggil namo tu, manggil om aku, tau tak? Sedap beno dikau
beduo manggil namonyo Barak Obama. Kang kene terajang jugo.”
“Maaf, maaf bang. Tak sia-sia
kami mencari abang untuk di wawancara. Kami wartawan dari koran Jakarta, ingin
mewawancarai abang sedikit, dan kami dari jauh-jauh ingin bertanya sedikit aja
bang. Boleh tidak bang?” tanya wartawan sambil mempersiapkan alat rekaman.
“ahh...segitu beno miko beduo,
jauh-jauh hanyo wawancara je.....hah sile lah, nak tanyo apo? Istri aku ado
berapo, anak aku lahir dimano, oh atau ukuran kasut aku berapo? Hah..sile
tanye”.
Dua wartawan tadi tiba-tiba merasa aneh melihat Tomok yang mereka cari. Hingga mereka
teringat, bahwa nama Tomok yang ada pada surat itu merupakan orang anggota DPR.
Tetapi mereka mencoba bertanya apakah orang yang dicarinya itu benar-benar
Tomok atau bukan.
“Begini bang, dari informasi yang
kami dapat apakah abang pernah mengikuti seperti rapat besar di USA?” Dengan
lagak seperti orang penjabat, Tomok menjawab:
“Ya tentu lah, aku orang pertamo
di Indonesia ni yang ikut dalam rapat tu bersamo om Bama. Dikau tahu tak, dalam
rapat tu semuo orang yang mengikuti rapat tu hadir semuo, tak ado sedikit pun
kursi yang kosong, tak samo dengan rapat negare kito ni, dengo kato rapat dah
senyap, sikit-sikit sepi. Ha...baru-baru ni aku dengo kabo sedang rapat ajo
bise dio tetidow. Kan tak etis tu. Menurut miko, baik tak penjabat macam tu?”
“eh..tak baik itu bang.”
“hah, tahu miko. Makenye ubahlah
sifat macam tu, makonyo rakyat banyak demo, hura sano hura sini, macam ikan
jatuh di darat, menggelepak tak tahu arah. Kasihan aku jadinyo. Hah, apo lagi,
cepatlah aku nak balik lagi nak piking baju aku.”
“memangnya abang mau kemana bang?
Mau ke Amerika lagi?”
“Aih untuk apo aku pergi ke
Amberik tu. Aku dah pensiun dah, aku nak nyelam ke sungai untuk menjalo ikan.
Soalnyo lagi musim. Dah ado nak tanyo lagi?”
“Ah...pensiun bang? Bukannya bang
baru di lantik semalam? Masa iya bang langsung pensiun?”
Tiba-tiba ada warga setengah baya lewat di hadapan para wartawan dan Tomok dan
berhenti sekejap.
“Alah, bodoh betul dikau ni.
Percaye pulak dikau same Tomok tu? Tak ado yang betul die tu, dah tahu die
bekerja sebagai penjale ikan di sungai. Dengo-dengo istilah om Bama lah, tu om
Bama yang die maksud, pak ketua RT. Dah lah, Mok kerje lagi. Banyak ikan
terjale tu.”
Apa yang di rasakan oleh wartawan tadi ternyata benar, kalau orang yang dia
cari itu bukan orang yang menulis surat itu. tetapi mereka mencoba bertanya
untuk meyakini.
“Maaf bang, jika bapak itu benar
mengatakan bapak sebagai penjala ikan, berarti ini surat siapa ya bang? Karena
di surat ini tertulis nama Tomok Mulyono. Apa benar itu nama abang?”. Dengan
ketawa lepas, Tomok menjawab dengan gurauan.
“Hahahaha.....ngapo miko tak
tanyo dari tadi. Di sini ado tigo namo Tomok. Rumah tu Tomokin, rumah tu rumah
aku, ni orangnyo. Hah..rumah tu yang beso macam kandang gajah tu, baru rumah
Tomok Mulyono. Budak tu baru pindah dari Gua nos ires, hah susah cakap kato tu
macam tak ado kato lain je. Dah lah, aku nak pergi menjalo ikan dulu dan jangan
lupo tu tulis di koran Jakarta, tak hanyo di Jakarta aje, pokoknyo seluruh
Indonesia, agar para penjabat tu sado pentingnyo rapat, jangan asik-asik tido
nginces basah-basahkan kursi mahal tu. Yo, jangan lupo tu. Dah aku pamit dulo. Assalamualaikum?
Woiii....Pak Cang..Tunggu..”
Wartawan pun mulai tak semangat untuk mewawancarai orang yang di tugaskan dalam
surat. Mereka membuat keputusan kalau wawancara yang mereka lakukan pada Tomok
tadi untuk di terbitkan di surat kabar seluruh indonesia, dan mereka menyadari
bahwa ada benarnya apa yang di katakan Tomok tadi tentang ceritanya yang ada seriusnya,
ya walaupun sedikit miring-miringan.

No comments:
Post a Comment