Showing posts with label SASTRA. Show all posts
Showing posts with label SASTRA. Show all posts

Wednesday, August 29, 2018

SENJA YANG RENTA


SENJA YANG RENTA



Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh bunga bewarna-warni menikmati pemandangan. Tampak pengemis renta menadahkan tangan seperti meminta sekeping atau selembar uang untuk keberlangsungan hidupnya. Tepat di depanku beliau berdiri dengan pakaian lusuh dan rombeng sambil memegang sebuah gelas plastik bening  bungkus air mineral. Aku mulai meronggoh kocek saku, dan mengeluarkan uang yang aku rasa itu cukup untuk membeli makan malamnya hari ini. Tak sengaja aku menatap wajah pengemis renta itu tersenyum tapi tampak kaku.

“Ini, Buk. Semoga bermanfaat untuk ibuk dan keluaga ibuk.”, kataku dengan nada pelan.

Tetapi, pengemis renta itu masih tetap tersenyum sambil membungkukan badannya seperti mengucapkan "Terimakasih" tetapi dalam bahasa tubuh dan ia mulai pergi menjauhiku. Terus aku memandangi pengemis renta itu dengan seksama.

Aku mulai melihat jam yang ada di tangan kananku. Waktu telah menunjukan pukul 19.00 WIB. Lalu aku bergegas pergi meninggalkan bangku taman, karena aku mesti menonton sebuah pertunjukan seni di sebuah gedung megah.

Selesai aku menyaksikan pementasan seni, aku melihat suasana di luar gedung yang mulai tampak sepi. Aku menuju ke pinggiran jalan raya, aku melambai tangan pada sebuah mobil taksi dan menaiki taksi itu. Di dalam mobil taksi aku melihat-lihat keadaan kota ketika malam tiba. Tak sengaja pandanganku melihat pengemis renta yang sebelumnya aku lihat tadi duduk dengan lesu di tepi halte bus yang begitu kumuh. Lalu aku menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya dan aku turun dari mobil. Bergegas aku pergi ke pengemis renta tadi dan aku melihat ia tampak menangis tersedu-sedu.

“Ibuk, kenapa menangis?”, tanyaku dengan rasa iba.

“Anak ibuk nak...tidak ada disini. Padahal dia belum makan nak.”, jawab ibuk renta yang masih menangis dan merangkul makanan untuk anaknya.

“Loh, anak ibuk memangnya kemana? Kenapa tidak bersama ibuk tadi?”, kembali aku bertanya.

Tetapi ibuk pengemis renta ini tidak menjawab. Ia menatapku begitu dalam. Tangannya yang reot itu memegang wajahku, lalu ia berdiri dan pergi meninggalkanku.

“Ibuk, mau kemana?”, kembali aku bertanya yang masih terasa gantung.

 Aku kembali masuk dalam taksi dan pergi melanjutkan perjalananku yang sempat terhenti tadi.

Keesokan harinya aku juga kembali mengunjungi taman kota. Memang aku suka mengunjungi taman kota setiap kali aku selesai menjalani aktifitas. Di taman kota inilah aku selalu melepas beban dan pikiran. Tampak seperti biasa, kota masih tetap terlihat riuh dan matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Sesekali aku menikmati pemandangan sebuah taman yang dekat dengan laut. Angin sesekali menyapa kulitku dan bermain indah dengan daun-daun yang bergesekan. Ibuk pengemis renta itu kembali datang dan lewat depanku, tetapi kali ini ia tidak menadahkan tangan. Hanya lewat begitu saja. Aku mencoba memanggil ibuk pengemis renta itu.

“Ibuk...”, kataku sambil menghampirinya.

“Ya nak...ada apa?”, jawabnya dengan nada rendah.

“Lupa ya sama saya yang semalam?”, tanyaku lagi.

“Siapa ya? Ibuk lupa nak.”, kata ibuk renta.

“Loh, saya yang menghampiri ibuk semalam di halte?”

Ibuk pengemis renta itu hanya terdiam dan tak lama ia menangis tersedu. Aku merasa heran dan sedikit merasa bersalah, apa ibuk ini ada masalah atau bagaimana.

“Loh, kenapa menangis, Buk? Ada masalah apa, Buk?”, tanyaku dengan penuh tanda tanya.

Ibuk itu masih tetap menangis. Lalu ia berdiri dengan kaki yang bergemetar dan ia meninggalkanku sama seperti yang ia buat kemarin. Kini aku diserang beribu penasaran, kenapa ibuk pengemis renta ini selalu menangis jika melihatku. Aku pun pergi melanjutkan aktivitasku.

Aktivitasku telah selesai. Aku kembali ke taman kota untuk menikmati suasana malam. Tetapi, dari kejauhan orang-orang berlari menuju persimpangan dan tampak juga sebuah mobil ambulance. Akupun bergegas menuju ke tempat keramaian itu.

“Maaf, kak ada kejadian apa, ya?”, tanyaku penuh kebingungan.
“Ada orang ketabrak mobil. Saat warga beramai-ramai datang, yang menabrak tadi pergi. Tabrak lari.”, jawab seorang perempuan sambil menutup mulut.

Aku penuh kebingungan siapa orangtua itu. Lalu aku masuk disela-sela kerumunan. Sungguh aku tak sanggup menahan derai air mata ini, dan aku pun terhenyak sambil memeluk erat si ibuk pengemis renta. Anak ibuk pengemis renta yang hilang beberapa hari itu, kini ditemukan terbujur kaku bermandikan darah tepat di depan ibuk yang melepas tangis kesedihannya. Anak yang meninggal sambil memeluk foto ibuk pengemis .

Pekanbaru, 2017

Wednesday, January 3, 2018

SI BAYANG BAYANG

Wanita bayang mendekat
Merayap pada dinding semu
Menyamar indah tak diketahui
Ia telah menggoda ku
Terbuai dalam rona wajah
Terlamun pada hati lembut
Bagai kapas akrab bersama angin
Bayang
Bayang
Bayang
Menggeliat disekujur tubuh ini
Telah bernafsu hati
Ingin menjamah si bayang
Aduhai, itu bukan si bayang bayang
Tersebab mata buta
Ialah fatamorgana
Yang berpadu kasih dengan imajinasi
Melekat-lekat di tubuh mungil
Oh mata kau kau kau
Si bayang bayang
Menuntun diri dalam buaian kasih sayang
Aku terhenyak; tak berpapah
Segelintir mata berpandang padah
Si mungil hilang bayang
Tersebab pandang-pandang sebelah mata
Puah!!! Kacaulah ia....

Saturday, December 30, 2017

KESENIAN MASUK KAMPUNG

Suatu ketika, Manan sedang duduk di sebuah pendopo kecil di bawah pohon jambu, tepat di depan rumahnya. Ia tampak sibuk membaca buku. Banyak buku beserak di sekitar tempat dia duduk. Beragam-ragam buku ia baca. Tampak dari jauh, Tomok datang sambil menggandeng sebuah buku. Manan memanggil Tomok sambil mengode minum kopi. Tomok kalau dah diajak ngopi, tak akan pernah menolak siapa pun orang yang mengajaknya. Setiba Tomok di pendopo kecil Manan, Tomok duduk bersila, tanpa basa-basi ia membuka gelas yang telungkup dan mencurahkan kopi ke dalam gelas. Manan menggelengkan kepala dan berkata:

“Ewah, dikau Mok belum aku mempersilahkan dikau minum, dah main hembat ye.”

Tomok tidak menghiraukan, dan die tetap menghirup bau kopi yang telah ia curahkan ke gelas tadi. Sambil memejamkan mata, Tomok mulai berekpresi lagaknya mau baca puisi. Manan terkejut, tetiba Tomok berkelakuan aneh. Tak macam biasanya.

“Aih, Mok. Dikau ngape, tesampok Jin mane?”

“Pekat....Hitam....Bercita rasa semerbak bau...”, kata Tomok sambil berekpresi dengan kaki naik di atas kayu sandaran pendopo.

“Mok, dikau kenape ni? Mampus aku, apelah yang Minah masukan dalam kopi ni. Tapi, aku minum kopi ni tak macam Tomok pulak. Tesampok Jin manelah die ni. Mok, sado...sado”, kata Manan tampak cemas.

Tomok menatap tajam Manan dan ia tampak diam. Tatapan Tomok semakin memekat tajam yang membuat Manan ketakutan dan mulai merangkak menjauh dari Tomok. Tapi, Tomok melarang Manan untuk pergi.

“Diam membatu. Hei, mambang angin...mambang Tanah....mambang dari segala penjuru, mantra segala mantra membuncah lantang...”

Manan mulai khawatir dan begitu takut hingga tampak gemetar. Keringat dingin mulai timbul di badan Manan. Sarip yang lewat depan rumah Manan terkejut mendengar teriakan dari Tomok. Dengan gesit Sarip sembunyi disebalik pohon, dan melihat aksi Tomok bertingkah laku aneh.

“Hah? Tomok tu? Apo macam dio buat kelaku tu?”, kata Sarip sambil menepuk jidatnya.
Sarip pun berteriak memanggil warga.

“Woi, mike mike kesini. Tomok dimasuki Jin ip’ret”.

“Astagfirullah, kenape Tomok tu macam begitu kelaku”, kata seseorang warga.

Manan pun terkejut melihat warga-warga dah berkumpul depan rumah dia.

“Woi, mike ngape beramai-ramai ni?”, tanya Manan dengan suara parau.

“Seharusnye aku yang nak tanye, budak Tomok tu ngape pekik telolong macam tu. Masuk jin ke?”, tanya Sarip.

“Aku tak tahu de, saat minum kopi die langsung macam ni. Tapi, aku minum kopi ni tak macam ni pulak”, jawab Manan.

Tomok mulai tampak mengeksplor badannya seperti butoh (gerakan tubuh ala Jepang).

“Ihhh, die kene santau.”, kata salah seorang warga.

“Yang betul cakap tu, manelak ade di kampung kito ni hal macam tu. Betul tu Manan, die tu kene santau?”, tanya Sarip dengan nada sedikit meninggi.

Tomok pun tak mau kalah, diapun ikut bernada tinggi dan berteriak.

“Aih budak ni kang, aku nada tinggi die pun tak kalah saing. Mok, dikau kenape ni? Macam tu pulak kelaku?”, tanya Sarip sambil mengambil sebatang kayu lapuk.

Tiba-tiba, Tomok menatap Sarip dan warga. Perlahan ia menatap tajam dan berjalan pelan mendekati Sarip. Warga lain pun lari terbirit-birit. Sarip tampak diam dan memegang kayu lapuk dengan kuat, hingga patah.

“Lantang bukan mencecah....batu menjadi mantra”, kata Tomok sambil bergerak butoh.

“Mampus aku, tak dapat cakap lagi. Mengapelah aku betiak-tiak tadi, kan dah jadi gini”, kata Sarip yang bercucuran keringat.

Tampak dari jauh, Jang membawa beberapa proposal.

“Mok, moh kopi. Penat aku nyari dikau dah”, teriak Jang dari Jauh.

Tomok pun terkejut, dan melirik Jang dengan cepat dan menjawab:

“Yop, kejap aku ambik kasut dulu. Kejap lagi aku kesano. Hmm alah, apo kesah Jang ni lamo aku nunggu dikau. ”, sambil besungut menuju pendopo Manan.

Manan pun terdiam, dan bertanya pada Tomok:

“Mok, dikau dah sado?”

“Sado? Aih, memang aku kenapo?”, tanya Tomok kembali.

“Dikau tejerit-jerit macam tesampok jin tu kenape?”, tanya Manan sambil perlahan mendekati Tomok.

“Oh, aku sedang besajak dan cubo berteater selepok. Apolah kesah dikau ni, Nan. Suai dikau ni selalu kusut tak nentu, banyak betul dikau baco buku tu jadi tak tahu aku bersajak dan teater tadi tu?”, tanya Tomok sambil memasang kasut.

“Ta..tadi tu dikau besajak? Plus teater?,” tanya Manan heran.

“Laillahailallah....tak tahu dikau selamo ni?”, tanya Tomok.

Tomok pun terkejut melihat Sarip.

“Astagfirullah, WAK SARIP! Ape dikau buat tu?,” tanya Tomok sambil melotot.
Sarip pun tersadar, dan bertanya:

“Mok, sado dikau dah. Aku kenape, Mok?”, tanya Sarip dengan penuh keheranan.

“TUTUP BARANG DIKAU TU, RIP. MALU Rip, MALUUU. Dikau tu dah tuo.”, kata Tomok sambil menunjuk sarung Sarip.

“Astagfirullah. Suailah warga lari tadi, rupenye barang aku tededah. Ni dikau punye pasal, Mok. Memacam kelaku pulak dikau perbuat tadi”, sungut Sarip sambil menutup yang terdedah bebas dan ia pergi meninggalkan Manan serta Tomok.

“Hahahahaha......Wak Sarip tu dah tuo tambah pulak dikau bekelaku macam-macam tadi. Hmmm alah, Mok Tomok”, kata Manan sambil mencurah kopi.

“Buku ni dikau bace. Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy. Banyak inspirasi yang aku dapat dari buku ni. Macam dikau ni WAJIB membace ini. Sebab, banyak ulasannye tentang Kesenian, Penyair, Seniman, Teater, pokoknye semuenye ade dibuku ni. Dikau kan suke dengan hal berbau keingin tahuan berilmu. Ha, dikau bantu dan beri lahan berekpresi pada penukang kesenian ni. Dikau buatlah, program kesenian di kampung kite ni. Sebab, kalau tak kite yang menghargai para seniman siape lagi. hidup itu seni, Nan. Ingat! Dah, aku nak ke tempat Jang. Kami nak mengajukan bantuan proposal kesenian untuk kampung kite ni”, kata Tomok sambil meminum kopi.

“Waw, emejing ni buku Mok. Pinjamlah aku kejap", kata Manan penuh semangat.

"Pinjam? Hah, sedap cakap. Dikau belilah samo Atah Roy kampung sebelah tu. Tigo puluh Ribu rupiahnyo. Ulasan Atah Roy ni menarik, Nan", kata Tomok meyakinkan Manan.

"Okelah, kang aku beli dan aku lagi berusaha ni semampu aku untuk memajukan kesenian di kampung kite ni. Malam ni aku buat programnye dan aku ajukan besok tempat kejo aku. Kalau bukan kite, siape lagi. Ye tak?”, kata Manan.

Tomok pun pergi dan Manan merapikan buku-bukunya dan pergi untuk membeli buku "Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy".

* * *




Judul                   : Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy

Penerbit              : Yayasan Pusaka Riau

Desain Sampul   : Katon/ Hang Kafrawi

Harga                  : Rp 30.000,- (belum include pengiriman)


Pemesanan bisa melalui Gmail penulis maupun kontak person dibawah ini:

0822 8308 8441 (Bisa melalui WA)

Wednesday, December 27, 2017

SENARAI NEGERI

Senarai kehidupan telah menjadi kisah
Bermula setapak cerita
Sejarah tertuang
Memapar negeri dalam tembang
Ragam budaya
Mengukir bahasa
Menjadi laman status negeri
Lancang kuning

Walau hempas ombak menghancurkan
simbol sebuah negeri melayu
lembayung senja terpancak kaku
Tapi, makna terjerat erat di dalam kisah itu
dan inilah lembaran-lembaran baru
Yang menguak rindu
Peradaban negeri yang terkuak
Telah berkisah
Tak kan berpisah
Hingga anak cucu lahir pada negeri

Lancang kuning terkembang dalam layar
Melahirkan sebuah butiran-butiran sejarah
Tanpa nahkoda, tak kan pernah berkisah

Tak kan melayu hilang di Bumi


Pekanbaru, 2016

NEGERI KOTA SENJA

Tah,
Terbayang aku saat kaki menjejak di kota senja syahdu
Mendekap tangan-tangan kotor lesap
Namun, Tah
Ketika bayang buyar dalam kenangan
Jalanan kota yang syahdu itu
Hanya risau berkecamuk,
Tersadai segala dalam perih luka
Tapi, Tah
Kemana hati nurani mereka
Yang meronggoh kantong bersisa debu rakyat jelata?
Merekakah itu bertopeng cadas
Yang penuh wajah-wajah tak bermalu aib
Hanya demi kepentingan materialistis dunia?

Tah,
Adakah kota syahdu dalam bayanganku itu?
Tanpa peras
Tanpa bengis
Tanpa tangis
Yang ada ribuan harapan masa depan?

Terakhir tah,
Hati nurani telah terkikis
saat lembaran dusta di hamparan beribu nyawa tergadaikan
kejam menghujam tajam
menusuk hati kecil tak lagi bersuara
Tah,
Kemana nak dituju pesan kecil ku ini tah?
Hukum karma belum berlalu
Tapi, beribu sumpah serapah busuk telah berlaku





Pekanbaru, 2016 

HILANG RANAH NEGERI KAMI

Hancurlah pelantar mimpi yang membisu
Hancurlah titian imaji yang terpancang membatu
Musnah bagai seribu panah
Yang hilang dari ranah
Seketika
Tak berbekas

Hoiii kawan
Adakah langkah engkau tapaki
Pada tanah tak bertuan itu?
Adakah luka tersayat perih pada hati
Bila tuan tanah itu berada?
Jangan engkau kufur nikmat
Bila satu ingin dua
Bila tak cukup ingin semua
Engkau penikmat dahaga
Yang membabi buta
Pada hasil pekerja
Melahap tiada ampun
Tak bersisa
Permata?

Hoii....kawan
Tiada lagi tanah kami
Yang bertuan pada hati
Berjaga dalam damai
Indah tiada tara?




Pekanbaru 2017


Tuesday, December 26, 2017

RENTA MALANG


Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh bunga bewarna-warni menikmati pemandangan. Tampak pengemis renta menadahkan tangan seperti meminta sekeping atau selembar uang untuk keberlangsungan hidupnya. Tepat di depanku beliau berdiri dengan pakaian lusuh dan rombeng sambil memegang sebuah gelas plastik bening  bungkus air mineral. Aku mulai meronggoh kocek saku, dan mengeluarkan uang yang aku rasa itu cukup untuk membeli makan malamnya hari ini. Tak sengaja aku menatap wajah pengemis renta itu tersenyum tapi tampak kaku.

“Ini, Buk. Semoga bermanfaat untuk ibuk dan keluaga ibuk.”, kataku dengan nada pelan.

Tetapi, pengemis renta itu masih tetap tersenyum sambil membungkukan badannya seperti mengucapkan terimakasih tetapi dalam bahasa tubuh dan ia mulai pergi menjauhiku. Terus aku memandangi pengemis renta itu dengan seksama.

Aku mulai melihat jam yang ada di tangan kananku. Waktu telah menunjukan pukul 19.00 WIB. Lalu aku bergegas pergi meninggalkan bangku taman, karena aku mesti menonton sebuah pertunjukan seni di sebuah gedung megah.

Selesai aku menyaksikan pementasan seni, aku melihat suasana di luar gedung yang mulai tampak sepi. Aku menuju ke pinggiran jalan raya, aku melambai tangan pada sebuah mobil taksi dan menaiki taksi itu. Di dalam mobil taksi aku melihat-lihat keadaan kota ketika malam tiba. Tak sengaja pandanganku melihat pengemis renta yang sebelumnya aku lihat tadi duduk dengan lesu di tepi halte bus yang begitu kumuh. Lalu aku menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya dan aku turun dari mobil. Bergegas aku pergi ke pengemis renta tadi dan aku melihat ia tampak menangis tersedu-sedu.

“Ibuk, kenapa menangis?”, tanyaku dengan rasa iba.

“Anak ibuk nak...tidak ada disini. Padahal dia belum makan nak.”, jawab ibuk renta yang masih menangis dan merangkul makanan untuk anaknya.

“Loh, anak ibuk memangnya kemana? Kenapa tidak bersama ibuk tadi?”, kembali aku bertanya.

Tetapi ibuk pengemis renta ini tidak menjawab. Ia menatapku begitu dalam. Tangannya yang reot itu memegang wajahku, lalu ia berdiri dan pergi meninggalkanku.

“Ibuk, mau kemana?”, kembali aku bertanya yang masih terasa gantung.

 Aku kembali masuk dalam taksi dan pergi melanjutkan perjalananku yang sempat terhenti tadi.

Keesokan harinya aku juga kembali mengunjungi taman kota. Memang aku suka mengunjungi taman kota setiap kali aku selesai menjalani aktifitas. Di taman kota inilah aku selalu melepas beban dan pikiran. Tampak seperti biasa, kota masih tetap terlihat riuh dan matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Sesekali aku menikmati pemandangan sebuah taman yang dekat dengan laut. Angin sesekali menyapa kulitku dan bermain indah dengan daun-daun yang bergesekan. Ibuk pengemis renta itu kembali datang dan lewat depanku, tetapi kali ini ia tidak menadahkan tangan. Hanya lewat begitu saja. Aku mencoba memanggil ibuk pengemis renta itu.

“Ibuk...”, kataku sambil menghampirinya.

“Ya nak...ada apa?”, jawabnya dengan nada rendah.

“Lupa ya sama saya yang semalam?”, tanyaku lagi.

“Siapa ya? Ibuk lupa nak.”, kata ibuk renta.

“Loh, saya yang menghampiri ibuk semalam di halte?”

Ibuk pengemis renta itu hanya terdiam dan tak lama ia menangis tersedu. Aku merasa heran dan sedikit merasa bersalah, apa ibuk ini ada masalah atau bagaimana.

“Loh, kenapa menangis, Buk? Ada masalah apa, Buk?”, tanyaku dengan penuh tanda tanya.

Ibuk itu masih tetap menangis. Lalu ia berdiri dengan kaki yang bergemetar dan ia meninggalkanku sama seperti yang ia buat kemarin. Kini aku diserang beribu penasaran, kenapa ibuk pengemis renta ini selalu menangis jika melihatku. Aku pun pergi melanjutkan aktivitasku.

Aktivitasku telah selesai. Aku kembali ke taman kota untuk menikmati suasana malam. Tetapi, dari kejauhan orang-orang berlari menuju persimpangan dan tampak juga sebuah mobil ambulance. Akupun bergegas menuju ke tempat keramaian itu.

“Maaf, kak ada kejadian apa, ya?”, tanyaku penuh kebingungan.
“Ada orang ketabrak mobil. Yang menabrak lari saat warga beramai-ramai datang.”, jawab seorang perempuan sambil menutup mulut.

Aku penuh kebingungan siapa orangtua itu. Lalu aku masuk disela-sela kerumunan. Sungguh aku tak sanggup menahan derai air mata ini, dan aku pun terhenyak sambil memeluk erat si ibuk pengemis renta. Anak ibuk pengemis renta yang hilang beberapa hari, kini ditemukan terbujur kaku bermandikan darah sambil memeluk foto ibunya.


Pekanbaru, 2017

MOTOR MERAJUK

Pemuda ini merupakan pemuda yang suka berbanyol dan membuat cerita sesuai dengan kehendak hatinya. Ia sering dipanggil dengan nama Tomok. Jika orang-orang mendengar nama Tomok, mereka sudah tahu kalau itu adalah pemuda penuh banyol dan pengarang cerita terhebat diantara kawan-kawannya, karena ceritanya berisi dengan kebohongan belaka.
            
Di suatu siang mereka hendak pergi ke tempat dimana mereka ingin menonton pertandingan model wanita termansyur. Tomok dengan temannya sebut saja Bai orang minang. Sebelum mereka hendak pergi dengan motor kaptul 70 yang klasik, tiba-tiba Tomok merasa ingin buang air kecil tetapi si Bai sudah stanby di atas motornya yang klasik itu. Sudah 5 menit berselang, Tomok belum menunjukan batang hidungnya di hadapan si Bai. Merasa gelisah si Bai langsung menghampiri si Tomok. 

“Manolah Tomok ko, tak ado nampak batang hiduangnyo. Wak lah nunggu limo minit, tak juo besuo. Jiko wak pai ka tampeknyo, motor sia yang jago. Beko dimatian motor ko, tak bisa pulo iduik-iduik...handeh, jalan pintas berjalan di pikiran denai...terpaksolah motor ko awak tinggalkan sabanta.” Si Bai pun pergi menyusul ke dalam Rumah Tomok.

Tetapi Tomok keluar lewat pintu samping, dan ia terkejut melihat motor si Bai yang tinggal sendiri di depan rumahnya.

“Aih mak, apo kesah budak si Babay tu. Motor di tinggal begitu sajo, sempat ado yang mencuri motor ni, siapo yang meraso gelisah? Aku jugo yang gelisah. Hah, tambah pulo motor yang masih stanboy, tambah sodap tu penyamun mengambiknyo..hah.”, Tomok pun mematikan motor si Bay, dan ia pergi lewat pintu belakang tadi.
            
Tak lama kemudian, si Bay keluar dari rumah Tomok.

“Ondeh mandeh, motor kalasik den mati. Ba’a nio pai ko? paling pantang motor aden mati. sia yang matian motor den ko? Kalau lah mati si Kalasik den, alamatlah marajuaklahnyo. Ko pasti karajo si Tomok. Mok...Tomok...”, kata si Bay yang gelisah pada motornya yang sudah mati merajuk.

“Apo Bay, tepekak sano tepekak sini? Tak baik di dengo Mak Itam. Apo kesah dikau ni? Dikau ni jugo motor di tinggal begitu ajo? Nasib baik ado aku, tak hilang motor kalasik dikau tu. Ha..ditambah jugo motordalam keadaan hidup, jiko ado penyamun macam mano? Hilang sudah motor babay dikau tu, aku jugo yang gelisah.”, marah dengan tegak pinggang di depan pintu.

“Aih Mak, kau kironyo matikan motor aden. Lah aden dugo, ba’a nio di iduikkan motor aden ko? Alah marajuak motor den ko ha..macam tak tahu parangai motor den ajo. Ko gadis den ko tahu kau tak?”, marah sambil menstarterkan motor klasiknya yang tak hidup-hidup.

“Eleh, ado pulo motor punyo jenis jantan betinonyo. Lagian jugo, ado pulo motor bisa merajuk. Macam iyo beno motor dikau ni. Tadi aku tengok, ado orang yang mencurigokan, dio tengok-tengok motor dikau. Jadi aku intiplah lewat semak-semak hitam belukar, eh maksud aku semak-semak daun pandan samping rumah aku, ha selepas tu dio datang perlahan terus mendekat ke motor dikau, dan hampir memegang motor dikau lagi..HOY! tu aku cakap tadi. Ha selepas tu, budak penyamun tu nak melawan aku, lumayan beso badannyo terus aku lawan dengan jurus kunyuk melempar buah ala mak inam, habis tu tergopoh-gopoh dio lari. Ha baru dengo kato jurus kunyuk melempar buah ajo dah takut, apo lagi bentuk jurusnyo gali kubo, iyo.” Menceritakan dengan ekpresi yakin dan di peragakan langsung.

“I...Iyo tu, Mok? Lai mantap seperegen den ko mah. Tak apo lah motor den marajuak dari pado hilangnyokan? Ha tapi..tapi macam mano awak nak pai ke tampek perlombaan model tu?” tanya si Bay.

“Tak usah di risaukan lagi, Bay. Imahkan ado, dio ajo yang kito jadikan model pado dinding kamar kito. Tak usah dirisaukan lagi.” Sambut Tomok dengan tenang.

Akhirnya, mereka berdua tak jadi pergi ke tempat perlombaan model wanita. Si Bay pun memasukan motornya ke dalam rumah Tomok. Saat di depan pintu mau memasukan motornya, tiba-tiba rantai motornya lepas dan si Bay langsung merajuk sehingga tidak pergi ke tempat model Imah untuk pajangan dindingnya, dan Tomok tergopoh-gopoh ke kamar mandi untuk melaksanakan panggilan alamnya.


Pekanbaru, 28 Februari 2013


KEJANG-KEJANG POLISI



Cerita ini masih bekisar tentang pemuda yang penuh dengan cerita banyolan dan kebohongan belakanya, Tomok. Kali ini ia kembali mulai menceritakan tentang kebohongan belakanya pada seorang polisi jalanan. Mari, kita baca ceritanya.

Pada suatu hari, Tomok dan temannya yang bernama Ijal dan anaknya pergi berdua naik kendaraan motor. Mereka berdua hendak pergi ke Mall untuk membeli sendal jepit Tomok yang putus di curi oleh anjing Pak Regar tetangga kampung sebelah. Suatu ketika, mereka hendak memasuki area jalan raya. Pada saat sudah memasuki jalan raya, Ijal terkejut melihat Tomok yang tidak memakai helm.

“Mok, mana helm kau?”, tanya Ijal kepada Tomok.

“Aih, ngapo pulo pakai helm, tak payah lah.” , jawab Tomok.

“Tak payah macam mana sekarang ni, kita di jalan raya Mok. Engkau tahulah polisi banyak di jalan raya mencari nafkah untuk bininya. Engkau tu mengundang polisi melihat kita sekarang.”, kata Ijal yang sedikit agak kesal.

“Dikau kesal dengan aku, kenapo dikau tak kesal jugo dengan anak dikau yang tertido tu? Diokan tak pakai helem jugo. Makonyo aku tak berhelem, sebab aku lihat anak engkau tu tak pakai helem. Kang plesing jugo dikau ni, hah.”, jawab Tomok dengan santai.

“Alahmak jang. Kenapa kau tiru anak aku ni. Dah tahu dia anak kecil baru berumur jagung, kau tiru pula. Kau tu dah besar Mok, dah pandai buat anak kenapa pemikiran kau masih begitu juga. Aduh..aku tak ada uang pula ni Mok, mau mutar di depan ada polis pula.”, kata Ijal dengan cemas dan kesal.

“Hahahaha, tak payahlah, Jal. Lewat ajolah, bio aku cakap pado polisi tu. Macam tak tahu beno aku
ni siapo.”, kata Tomok dengan gaya berwibawa.

Tak lama kemudian akhirnya mereka melewati pos polisi. Tetapi, mereka tidak lewat dengan free, mereka dilihat oleh polisi dan mengejar mereka. Saat polisi berada di samping mereka, Tomok mulai berulah.

“Maaf, tolong motor anda minggir ke tepi dahulu.” , kata polisi sambil memutarkan motornya ke tepi
jalan.

“Ada apa ya, pak?” , tanya Ijal yang pura-pura tidak tahu.

“Maaf, anda melanggar peraturan lalu lintas, karena penumpang anda tidak memakai persyaratan lalu lintas.”, jawab polisi.

“Aih, ado pulo persyaratan lalu lintas yo, Cik?” , tanya Tomok.

“Bisakah anda memperlihatkan SIM dan STNK anda?”, tanya polisi.

“Aduh pak, hanya tidak pakai helm saja masa kami harus di tahan beginian.” , kata Ijal.

“Cik, kami-kami ni nak ke Rumah Sakit. Beriba hatilah Cik, anak ni tadi kejang-kejang di Jalan Cik Puan, ha cubo Cik bayangkan, macam mano kalau anak pak Cik kejang-kejang, apo Cik kepikiran pado helem? Tak sempat bepikir do, Cik. Aih kasihan budak anak Ijal ni.”, sambil mengelus anak Ijal yang sedang tertidur puas.

“Tetapi peraturan harus dilakukan, Pak. Kami sebagai Polantas harus mematuhinya. Jika anda mengenakan helm, tidak akan terjadi seperti ini.” , kata polisi dengan tegas.

“Kan, dah sayo katokan tadi, macam mano nak pakai helem, Cik, anak ni dah kejang-kejang, badan panas pulo lagi. Mau Pak Cik tanggung anak ni kalau dio Setep?”, kata Tomok sambil mengendong anaknya Ijal.

“Setep? Apa itu setep?”, tanya polisi.

“Ah, maksud dia pak, Step mungkin pak. Hah ya step yang penyakit kejang-kejang mengeluarkan busa dari mulut tu, pak.” , perjelas Ijal.

“Alah, macam cikgu pulo dikau ni, salah satu kato ajo di permasalahkan. Hah, jadi pak Cik Polisi Polantitas? Now, Apo kesah sekarang ni, nak nunggu budak kecik ni Ko’it yang doso ditanggung samo pak Cik, atau mendapat pahalo dah nolong budak ni?”, Tomok semakin mulai marah pada polisi tersebut.
“Maaf pak, tapi peraturan....”, kata polisi yang gugup dan disambut langsung dengan Tomok.

“Peraturan apo lagi ni Cik, tak kasihan Cik dengan budak satu ni? Jike dio Ko’it alias Died alias mati, aku tak segan nak terajang pak Cik, biolah pak Cik pangkat beso yang penuh bintang-bintang garis tu, hah. Mano pak cik pilih? Jawab sekarang jangan lamo-lamo, kang mengamuk pulo aku.” Marah Tomok menjadi-jadi. Polisi pun bingung dan menelpon ketua pos tempat ia jaga, dan di setujui oleh ketuanya.

“Baiklah kalau begitu, pak. Saya persilahkan bapak untuk melanjutkan perjalanannya agar anak ini selamat dari penyakit kejang-kejangnya. Dan juga sekali lagi saya minta maaf telah memperlambat perjalanan bapak ke rumah sakit, lain kali pakailah helmnya saat di jalan raya, guna menyelamatkan anda dari kecelakaan khususnya pada kepala. Sekarang silahkan bapak melanjutkan perjalanan.” Tegas polisi pada Tomok dan Ijal.

“Hah, gitu donk pak dari tadi kenapa sih. Kasihan anak saya ini.” , kata Ijal pada pak polisi.

“Terimokasih yo Cik, semoge amal dan ibadah pak Cik Polisi diterima oleh Allah. Amin. Kalau begitu, kami nak pergi dulu, nampaknyo dah mulai ado gejalo lagi pada anak ni. Yo pak Cik, terimokasih?”, kata Tomok pada polisi sambil menaikan anak Ijal di atas motor.

“Ya, pak sama-sama. Hati-hati pak dan juga ikuti aturan rambu-rambu lalu lintasnya, pak.”, pak polisi pun mulai berangkat.

 “Mantap juga ide kau ya, Mok? Tak percaya aku dengan ide gila kau tadi. Tapi, tak sedap pula anak aku yang jadi bahan topik pembincangan kebohongan belaka tadi.” Kata Ijal.

“Tak apolah, dari pado uang awak keno sembat oleh pak Cik Polis tadi. Hidup tu harus pandai-pandai wak. Kalau diharap dari dikau tak ado do, namo ajo Ijal, indak jaleh.” , kata Tomok sambil mencemeeh Ijal.

“Biasa ajalah, jangan nama pula yang jadi bahan ejekan, tidak boleh dalam aturan ibu-ibu rumah tangga. Dahlah, pergi kita lagi.” Kata Ijal sambil menghidupkan motornya yang hendak mulai pergi.

Ketika motor sudah di hidupkan, mereka berdua pun pergi berangkat sambil berpamitan pada polisi tadi. Disaat mereka sudah jalan, polisi pun mulai pergi dan sekilas polisi itu melihat BM mereka yang pajaknya sudah mati, hingga akhirnya polisi tersebut pergi mengejar mereka lagi.




Pekanbaru, 4 Maret 2013


JABATAN TOMOK



Suatu ketika, ada 2 orang wartawan ingin bertanya kepada Tomok si pembual dalam cerita bodohnya demi kesenangan orang-orang  di sekitarnya. Dua wartawan ini tidak mengetahui dan menyadari bahwa Tomok yang di wawancarainya nanti ini merupakan pemuda yang si pembual dengan cerita bodohnya. Ketika mereka berdua wartawan ini hendak mencari rumah Tomok yang tak ketemu-ketemu selama 2 jam, lalu mereka bertanya dengan warga yang berlalu lalang.

“Permisi, mas. Maaf, mengganggu sebentar. Kami ingin bertanya alamat ini di mana ya?”, menunjukan secarik kertas kepada warga yang lalu lalang tadi. Warga pun menjawab sambil ketawa,

“hahaha di sini tak ado alamat yang bernamo Gg. Presiden, Cik. Yang ado Gg. Senggol, Gg. Buntu, Gg. Nam Stelon, Gg. Gang 4. Manolak ado Gg. Presiden, baru dengo namo gang macam tu. Hm, tapi cik klu namo presiden saye tahu cik. Presiden kita saat ini Pak Joko Widodo, yang di pendek namokan JOKOWI, cik...”. 

Dua wartawan pun bingung dengan apa yang ia bicarakan, hingga mereka bertanya lagi:

“eehh...mas..mas...klu nama presiden saya tahu siapa mas, malahan sampai anak, cucu, cicik, kakek buyutnya saya tahu mas. Kami ini datang dari Jakarta mas, dan ingin mencari seseorang yang mengirim surat ini mas. Hm..mungkin mas tahu, ini tulisan siapa atau namanya ada di surat ini mas.”

Wartawan tadi menunjukan surat tersebut pada warga tadi, dan warga tadi  pun melihat secarik kertas tadi dengan seksama.

“Hm...bagaimana mas, apakah mas tahu siapa orangnya?” tanya wartawan.

“Kejap dulu....tak boleh menggaduh orang sedang membaco.” Kata warga. Serius tapi tak pasti warga tersebut melihat dengan wajah heran pada wartawan tersebut.

“Pak...eh mas, bagaimana apakah anda sudah mengetahuinya. Hm...dimana rumah orang yang menulis surat ini?”

“Saye....hm...saye tak paham pade tulisan di kertas itu lah, cik. Apelagi saye belum tamat sd, susah membaconyo. Apo tulisannyo tu pak cik?” jawab warga dengan wajah bingung.

Wartawan pun mulai emosi, karena waktunya telah termakan oleh kelinglungan warga tadi.

“Eh..bung, kirain loe bisa tahu surat ini dari siapanya, rupa-rupanya loe gak tahu segalanya. Huh, dasar. Ya sudah bung (pada temannya) kita berangkat lagi, habis waktu kita sama dia.”

“Eh pak cik, walau pun saye tak pandai membaco, tapi istri saye banyak pak cik. Hahaha....begini-begini orang kayo jugo ni pak cik. Puah sisieh...budak sekarang tak tahu terimokasih. Ajap waktu awak habis.” Kata warga sambil menggerutu.
            
Setelah menghabiskan waktu yang tak ada hasilnya pada warga tadi, mereka masih terus mencari alamat rumah Tomok yang tak kunjung dapat-dapat. Saat mereka mencari-cari mereka hampir menabrak seseorang pemuda. Dan pemuda yang hampir di tabrak tadi menyuruh mereka keluar.

“Woi...keluo dikau dari kat (car) tu. Tak keluo jugo kang aku banting, aku terajang kang dengan kasut swalow aku ha...macam-macam dikau samo aku..ha..kan besungut pulak aku jadinyo...”, warga pun datang melihat Tomok mengamuk tak tentu arah pada mobil wartawan. Dua wartawan pun keluar dari mobilnya, dan meminta maaf pada Tomok.

“aduh...ma..maaf-maaf-maaf ya, mas. Kami tak sengaja. Kami tak melihat kalau ada orang lewat tadi. Ini kesalahan kami, karena kami sedang mencari alamat seseorang.” Kata wartawan pada Tomok dengan bersalaman.

“Siapo yang ngajo dikau naik kat ni? Miko ingin nak matikan aku? miko beduo macam cacing keno panas ajo samo dengan kat dikau ni. Sempat ado polisi, kang panjang pekaro miko beduo. (pada warga) sudah-sudah aku tak apo-apo, selamat lahir batin. Bio aku urus budak beduo ni. Dah-dah...besurai lagi...suuhh..”

“hm....Mas, tak terlukakan?” tanya wartawan.

“aku mano lah gampang terluko. Dikau tumbok aku, kang bedaghah tu muke.”

“kenapa bisa begitu mas?” tanya wartawan.

“bise lah.”

“hm...mang ada jurusnya ya, mas?

“adolah. Cumo aku ajo yang punyo. Tu jurus dari abah aku.”

“hm apa nama jurusnya mas?” tanya wartawan dengan heran.

“namonyo jurusnyo buluh lembek.”

“kok buluh lembek, mas?” tanya heran lagi.

“yo, lah. Jiko di tumbok pasti lah membalas, makonyo aku tumbok dengan buluh hinggo lembek. Mano ado orang keno tumbok menung ajo. (mikir) apo kesah ni miko beduo nak malingkan perkaro dari aku? miko ni dari mano, macam muko asing di kampung ni lah miko-miko ni.” Tanya Tomok dengan heran.

“maaf mas, kami gak ada maksud jahat apa lagi lari dari perkara masalah kami tadi. Mas kan gak ada terluka jadi damai-damai aja yah mas? Bisakan, mas?” tanya wartawan sambil memohon.

“Idih...puah sisieh. Aku ni punyo namo, dan namo aku bukan mas-mas. Dikau kiro aku ni mas karatan, hah? Geli aku dipanggil dengan namo macam tu. Panggil ajo aku Tomok. Yu disten? Ha macam tu lah bahaso kampungaku”.

Dengan wajah gembira dan lega, akhirnya mereka menemukan orang yang dicari-cari.

“Alhamdulillah, bapak yang bernama Tomok itu ya?” tanya wartawan dengan senang.

“yo, mang kenapo? Biaso ajolah muke miko beduo tu. Macam baru ketemu om Bama jo. Oh...mungkin miko nak ketemu om Bama ye?  Dua wartawan pun heran.

 “maaf bg Tomok, om Bama siapa ya? Teman abang?”

“cekacekaceka.....wawasan miko beduo ni, macam cangkang bekicot. Baru semalam aku dilantik oleh om Bama dari yu..yu...lupo aku namonyo. Ha yang uangnyo dollar.”

“Oh USA bang, Amerika. Mungkin maksud abang Presiden Barack Obama ya?

“Tak boleh dikau panggil namo orang macam tu, marah orang tuo tu hah tahu raso dikau. Aku ajo teman satu partainyo tak berani panggil namo tu, manggil om aku, tau tak? Sedap beno dikau beduo manggil namonyo Barak Obama. Kang kene terajang jugo.”

“Maaf, maaf bang. Tak sia-sia kami mencari abang untuk di wawancara. Kami wartawan dari koran Jakarta, ingin mewawancarai abang sedikit, dan kami dari jauh-jauh ingin bertanya sedikit aja bang. Boleh tidak bang?” tanya wartawan sambil mempersiapkan alat rekaman.

“ahh...segitu beno miko beduo, jauh-jauh hanyo wawancara je.....hah sile lah, nak tanyo apo? Istri aku ado berapo, anak aku lahir dimano, oh atau ukuran kasut aku berapo? Hah..sile tanye”. 

Dua wartawan tadi tiba-tiba merasa aneh melihat Tomok yang mereka cari. Hingga mereka teringat, bahwa nama Tomok yang ada pada surat itu merupakan orang anggota DPR. Tetapi mereka mencoba bertanya apakah orang yang dicarinya itu benar-benar Tomok atau bukan.

“Begini bang, dari informasi yang kami dapat apakah abang pernah mengikuti seperti rapat besar di USA?” Dengan lagak seperti orang penjabat, Tomok menjawab:

“Ya tentu lah, aku orang pertamo di Indonesia ni yang ikut dalam rapat tu bersamo om Bama. Dikau tahu tak, dalam rapat tu semuo orang yang mengikuti rapat tu hadir semuo, tak ado sedikit pun kursi yang kosong, tak samo dengan rapat negare kito ni, dengo kato rapat dah senyap, sikit-sikit sepi. Ha...baru-baru ni aku dengo kabo sedang rapat ajo bise dio tetidow. Kan tak etis tu. Menurut miko, baik tak penjabat macam tu?”

“eh..tak baik itu bang.”

“hah, tahu miko. Makenye ubahlah sifat macam tu, makonyo rakyat banyak demo, hura sano hura sini, macam ikan jatuh di darat, menggelepak tak tahu arah. Kasihan aku jadinyo. Hah, apo lagi, cepatlah aku nak balik lagi nak piking baju aku.”

“memangnya abang mau kemana bang? Mau ke Amerika lagi?”

“Aih untuk apo aku pergi ke Amberik tu. Aku dah pensiun dah, aku nak nyelam ke sungai untuk menjalo ikan. Soalnyo lagi musim. Dah ado nak tanyo lagi?”

“Ah...pensiun bang? Bukannya bang baru di lantik semalam? Masa iya bang langsung pensiun?”

Tiba-tiba ada warga setengah baya lewat di hadapan para wartawan dan Tomok dan berhenti sekejap.

“Alah, bodoh betul dikau ni. Percaye pulak dikau same Tomok tu? Tak ado yang betul die tu, dah tahu die bekerja sebagai penjale ikan di sungai. Dengo-dengo istilah om Bama lah, tu om Bama yang die maksud, pak ketua RT. Dah lah, Mok kerje lagi. Banyak ikan terjale tu.”

Apa yang di rasakan oleh wartawan tadi ternyata benar, kalau orang yang dia cari itu bukan orang yang menulis surat itu. tetapi mereka mencoba bertanya untuk meyakini.

“Maaf bang, jika bapak itu benar mengatakan bapak sebagai penjala ikan, berarti ini surat siapa ya bang? Karena di surat ini tertulis nama Tomok Mulyono. Apa benar itu nama abang?”. Dengan ketawa lepas, Tomok menjawab dengan gurauan.

“Hahahaha.....ngapo miko tak tanyo dari tadi. Di sini ado tigo namo Tomok. Rumah tu Tomokin, rumah tu rumah aku, ni orangnyo. Hah..rumah tu yang beso macam kandang gajah tu, baru rumah Tomok Mulyono. Budak tu baru pindah dari Gua nos ires, hah susah cakap kato tu macam tak ado kato lain je. Dah lah, aku nak pergi menjalo ikan dulu dan jangan lupo tu tulis di koran Jakarta, tak hanyo di Jakarta aje, pokoknyo seluruh Indonesia, agar para penjabat tu sado pentingnyo rapat, jangan asik-asik tido nginces basah-basahkan kursi mahal tu. Yo, jangan lupo tu. Dah aku pamit dulo. Assalamualaikum? Woiii....Pak Cang..Tunggu..”

Wartawan pun mulai tak semangat untuk mewawancarai orang yang di tugaskan dalam surat. Mereka membuat keputusan kalau wawancara yang mereka lakukan pada Tomok tadi untuk di terbitkan di surat kabar seluruh indonesia, dan mereka menyadari bahwa ada benarnya apa yang di katakan Tomok tadi tentang ceritanya yang ada seriusnya, ya walaupun sedikit miring-miringan.

SENJA YANG RENTA

SENJA YANG RENTA Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh...