Saturday, December 30, 2017

KESENIAN MASUK KAMPUNG

Suatu ketika, Manan sedang duduk di sebuah pendopo kecil di bawah pohon jambu, tepat di depan rumahnya. Ia tampak sibuk membaca buku. Banyak buku beserak di sekitar tempat dia duduk. Beragam-ragam buku ia baca. Tampak dari jauh, Tomok datang sambil menggandeng sebuah buku. Manan memanggil Tomok sambil mengode minum kopi. Tomok kalau dah diajak ngopi, tak akan pernah menolak siapa pun orang yang mengajaknya. Setiba Tomok di pendopo kecil Manan, Tomok duduk bersila, tanpa basa-basi ia membuka gelas yang telungkup dan mencurahkan kopi ke dalam gelas. Manan menggelengkan kepala dan berkata:

“Ewah, dikau Mok belum aku mempersilahkan dikau minum, dah main hembat ye.”

Tomok tidak menghiraukan, dan die tetap menghirup bau kopi yang telah ia curahkan ke gelas tadi. Sambil memejamkan mata, Tomok mulai berekpresi lagaknya mau baca puisi. Manan terkejut, tetiba Tomok berkelakuan aneh. Tak macam biasanya.

“Aih, Mok. Dikau ngape, tesampok Jin mane?”

“Pekat....Hitam....Bercita rasa semerbak bau...”, kata Tomok sambil berekpresi dengan kaki naik di atas kayu sandaran pendopo.

“Mok, dikau kenape ni? Mampus aku, apelah yang Minah masukan dalam kopi ni. Tapi, aku minum kopi ni tak macam Tomok pulak. Tesampok Jin manelah die ni. Mok, sado...sado”, kata Manan tampak cemas.

Tomok menatap tajam Manan dan ia tampak diam. Tatapan Tomok semakin memekat tajam yang membuat Manan ketakutan dan mulai merangkak menjauh dari Tomok. Tapi, Tomok melarang Manan untuk pergi.

“Diam membatu. Hei, mambang angin...mambang Tanah....mambang dari segala penjuru, mantra segala mantra membuncah lantang...”

Manan mulai khawatir dan begitu takut hingga tampak gemetar. Keringat dingin mulai timbul di badan Manan. Sarip yang lewat depan rumah Manan terkejut mendengar teriakan dari Tomok. Dengan gesit Sarip sembunyi disebalik pohon, dan melihat aksi Tomok bertingkah laku aneh.

“Hah? Tomok tu? Apo macam dio buat kelaku tu?”, kata Sarip sambil menepuk jidatnya.
Sarip pun berteriak memanggil warga.

“Woi, mike mike kesini. Tomok dimasuki Jin ip’ret”.

“Astagfirullah, kenape Tomok tu macam begitu kelaku”, kata seseorang warga.

Manan pun terkejut melihat warga-warga dah berkumpul depan rumah dia.

“Woi, mike ngape beramai-ramai ni?”, tanya Manan dengan suara parau.

“Seharusnye aku yang nak tanye, budak Tomok tu ngape pekik telolong macam tu. Masuk jin ke?”, tanya Sarip.

“Aku tak tahu de, saat minum kopi die langsung macam ni. Tapi, aku minum kopi ni tak macam ni pulak”, jawab Manan.

Tomok mulai tampak mengeksplor badannya seperti butoh (gerakan tubuh ala Jepang).

“Ihhh, die kene santau.”, kata salah seorang warga.

“Yang betul cakap tu, manelak ade di kampung kito ni hal macam tu. Betul tu Manan, die tu kene santau?”, tanya Sarip dengan nada sedikit meninggi.

Tomok pun tak mau kalah, diapun ikut bernada tinggi dan berteriak.

“Aih budak ni kang, aku nada tinggi die pun tak kalah saing. Mok, dikau kenape ni? Macam tu pulak kelaku?”, tanya Sarip sambil mengambil sebatang kayu lapuk.

Tiba-tiba, Tomok menatap Sarip dan warga. Perlahan ia menatap tajam dan berjalan pelan mendekati Sarip. Warga lain pun lari terbirit-birit. Sarip tampak diam dan memegang kayu lapuk dengan kuat, hingga patah.

“Lantang bukan mencecah....batu menjadi mantra”, kata Tomok sambil bergerak butoh.

“Mampus aku, tak dapat cakap lagi. Mengapelah aku betiak-tiak tadi, kan dah jadi gini”, kata Sarip yang bercucuran keringat.

Tampak dari jauh, Jang membawa beberapa proposal.

“Mok, moh kopi. Penat aku nyari dikau dah”, teriak Jang dari Jauh.

Tomok pun terkejut, dan melirik Jang dengan cepat dan menjawab:

“Yop, kejap aku ambik kasut dulu. Kejap lagi aku kesano. Hmm alah, apo kesah Jang ni lamo aku nunggu dikau. ”, sambil besungut menuju pendopo Manan.

Manan pun terdiam, dan bertanya pada Tomok:

“Mok, dikau dah sado?”

“Sado? Aih, memang aku kenapo?”, tanya Tomok kembali.

“Dikau tejerit-jerit macam tesampok jin tu kenape?”, tanya Manan sambil perlahan mendekati Tomok.

“Oh, aku sedang besajak dan cubo berteater selepok. Apolah kesah dikau ni, Nan. Suai dikau ni selalu kusut tak nentu, banyak betul dikau baco buku tu jadi tak tahu aku bersajak dan teater tadi tu?”, tanya Tomok sambil memasang kasut.

“Ta..tadi tu dikau besajak? Plus teater?,” tanya Manan heran.

“Laillahailallah....tak tahu dikau selamo ni?”, tanya Tomok.

Tomok pun terkejut melihat Sarip.

“Astagfirullah, WAK SARIP! Ape dikau buat tu?,” tanya Tomok sambil melotot.
Sarip pun tersadar, dan bertanya:

“Mok, sado dikau dah. Aku kenape, Mok?”, tanya Sarip dengan penuh keheranan.

“TUTUP BARANG DIKAU TU, RIP. MALU Rip, MALUUU. Dikau tu dah tuo.”, kata Tomok sambil menunjuk sarung Sarip.

“Astagfirullah. Suailah warga lari tadi, rupenye barang aku tededah. Ni dikau punye pasal, Mok. Memacam kelaku pulak dikau perbuat tadi”, sungut Sarip sambil menutup yang terdedah bebas dan ia pergi meninggalkan Manan serta Tomok.

“Hahahahaha......Wak Sarip tu dah tuo tambah pulak dikau bekelaku macam-macam tadi. Hmmm alah, Mok Tomok”, kata Manan sambil mencurah kopi.

“Buku ni dikau bace. Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy. Banyak inspirasi yang aku dapat dari buku ni. Macam dikau ni WAJIB membace ini. Sebab, banyak ulasannye tentang Kesenian, Penyair, Seniman, Teater, pokoknye semuenye ade dibuku ni. Dikau kan suke dengan hal berbau keingin tahuan berilmu. Ha, dikau bantu dan beri lahan berekpresi pada penukang kesenian ni. Dikau buatlah, program kesenian di kampung kite ni. Sebab, kalau tak kite yang menghargai para seniman siape lagi. hidup itu seni, Nan. Ingat! Dah, aku nak ke tempat Jang. Kami nak mengajukan bantuan proposal kesenian untuk kampung kite ni”, kata Tomok sambil meminum kopi.

“Waw, emejing ni buku Mok. Pinjamlah aku kejap", kata Manan penuh semangat.

"Pinjam? Hah, sedap cakap. Dikau belilah samo Atah Roy kampung sebelah tu. Tigo puluh Ribu rupiahnyo. Ulasan Atah Roy ni menarik, Nan", kata Tomok meyakinkan Manan.

"Okelah, kang aku beli dan aku lagi berusaha ni semampu aku untuk memajukan kesenian di kampung kite ni. Malam ni aku buat programnye dan aku ajukan besok tempat kejo aku. Kalau bukan kite, siape lagi. Ye tak?”, kata Manan.

Tomok pun pergi dan Manan merapikan buku-bukunya dan pergi untuk membeli buku "Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy".

* * *




Judul                   : Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy

Penerbit              : Yayasan Pusaka Riau

Desain Sampul   : Katon/ Hang Kafrawi

Harga                  : Rp 30.000,- (belum include pengiriman)


Pemesanan bisa melalui Gmail penulis maupun kontak person dibawah ini:

0822 8308 8441 (Bisa melalui WA)

No comments:

Post a Comment

SENJA YANG RENTA

SENJA YANG RENTA Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh...