Suatu ketika,
Manan sedang duduk di sebuah pendopo kecil di bawah pohon jambu, tepat di depan
rumahnya. Ia tampak sibuk membaca buku. Banyak buku beserak di sekitar tempat
dia duduk. Beragam-ragam buku ia baca. Tampak dari jauh, Tomok datang sambil menggandeng
sebuah buku. Manan memanggil Tomok sambil mengode minum kopi. Tomok kalau dah
diajak ngopi, tak akan pernah menolak siapa pun orang yang mengajaknya. Setiba
Tomok di pendopo kecil Manan, Tomok duduk bersila, tanpa basa-basi ia
membuka gelas yang telungkup dan mencurahkan kopi ke dalam gelas. Manan menggelengkan kepala dan berkata:
“Ewah, dikau Mok belum aku
mempersilahkan dikau minum, dah main hembat ye.”
Tomok tidak menghiraukan, dan die
tetap menghirup bau kopi yang telah ia curahkan ke gelas tadi. Sambil
memejamkan mata, Tomok mulai berekpresi lagaknya mau baca puisi. Manan
terkejut, tetiba Tomok berkelakuan aneh. Tak macam biasanya.
“Aih, Mok. Dikau ngape, tesampok
Jin mane?”
“Pekat....Hitam....Bercita rasa
semerbak bau...”, kata Tomok sambil berekpresi dengan kaki naik di atas kayu
sandaran pendopo.
“Mok, dikau kenape ni? Mampus
aku, apelah yang Minah masukan dalam kopi ni. Tapi, aku minum kopi ni tak macam
Tomok pulak. Tesampok Jin manelah die ni. Mok, sado...sado”, kata Manan tampak
cemas.
Tomok menatap tajam Manan dan ia
tampak diam. Tatapan Tomok semakin memekat tajam yang membuat Manan ketakutan
dan mulai merangkak menjauh dari Tomok. Tapi, Tomok melarang Manan untuk pergi.
“Diam membatu. Hei, mambang
angin...mambang Tanah....mambang dari segala penjuru, mantra segala mantra
membuncah lantang...”
Manan mulai khawatir dan begitu
takut hingga tampak gemetar. Keringat dingin mulai timbul di badan Manan. Sarip
yang lewat depan rumah Manan terkejut mendengar teriakan dari Tomok. Dengan
gesit Sarip sembunyi disebalik pohon, dan melihat aksi Tomok bertingkah laku
aneh.
“Hah? Tomok tu? Apo macam dio
buat kelaku tu?”, kata Sarip sambil menepuk jidatnya.
Sarip pun berteriak memanggil
warga.
“Woi, mike mike kesini. Tomok
dimasuki Jin ip’ret”.
“Astagfirullah, kenape Tomok tu
macam begitu kelaku”, kata seseorang warga.
Manan pun terkejut melihat
warga-warga dah berkumpul depan rumah dia.
“Woi, mike ngape beramai-ramai
ni?”, tanya Manan dengan suara parau.
“Seharusnye aku yang nak tanye,
budak Tomok tu ngape pekik telolong macam tu. Masuk jin ke?”, tanya Sarip.
“Aku tak tahu de, saat minum kopi
die langsung macam ni. Tapi, aku minum kopi ni tak macam ni pulak”, jawab
Manan.
Tomok mulai tampak mengeksplor
badannya seperti butoh (gerakan tubuh ala Jepang).
“Ihhh, die kene santau.”, kata salah seorang warga.
“Yang betul cakap tu, manelak ade
di kampung kito ni hal macam tu. Betul tu Manan, die tu kene santau?”, tanya
Sarip dengan nada sedikit meninggi.
Tomok pun tak mau kalah, diapun
ikut bernada tinggi dan berteriak.
“Aih budak ni kang, aku nada
tinggi die pun tak kalah saing. Mok, dikau kenape ni? Macam tu pulak kelaku?”,
tanya Sarip sambil mengambil sebatang kayu lapuk.
Tiba-tiba, Tomok menatap Sarip
dan warga. Perlahan ia menatap tajam dan berjalan pelan mendekati Sarip. Warga lain
pun lari terbirit-birit. Sarip tampak diam dan memegang kayu lapuk dengan kuat,
hingga patah.
“Lantang bukan mencecah....batu
menjadi mantra”, kata Tomok sambil bergerak butoh.
“Mampus aku, tak dapat cakap
lagi. Mengapelah aku betiak-tiak tadi, kan dah jadi gini”, kata Sarip yang
bercucuran keringat.
Tampak dari jauh, Jang membawa
beberapa proposal.
“Mok, moh kopi. Penat aku nyari
dikau dah”, teriak Jang dari Jauh.
Tomok pun terkejut, dan melirik
Jang dengan cepat dan menjawab:
“Yop, kejap aku ambik kasut dulu.
Kejap lagi aku kesano. Hmm alah, apo kesah Jang ni lamo aku nunggu dikau. ”,
sambil besungut menuju pendopo Manan.
Manan pun terdiam, dan bertanya
pada Tomok:
“Mok, dikau dah sado?”
“Sado? Aih, memang aku kenapo?”,
tanya Tomok kembali.
“Dikau tejerit-jerit macam
tesampok jin tu kenape?”, tanya Manan sambil perlahan mendekati Tomok.
“Oh, aku sedang besajak dan cubo
berteater selepok. Apolah kesah dikau ni, Nan. Suai dikau ni selalu kusut tak
nentu, banyak betul dikau baco buku tu jadi tak tahu aku bersajak dan teater
tadi tu?”, tanya Tomok sambil memasang kasut.
“Ta..tadi tu dikau besajak? Plus
teater?,” tanya Manan heran.
“Laillahailallah....tak tahu
dikau selamo ni?”, tanya Tomok.
Tomok pun terkejut melihat Sarip.
“Astagfirullah, WAK SARIP! Ape dikau
buat tu?,” tanya Tomok sambil melotot.
Sarip pun tersadar, dan bertanya:
“Mok, sado dikau dah. Aku kenape,
Mok?”, tanya Sarip dengan penuh keheranan.
“TUTUP BARANG DIKAU TU, RIP. MALU
Rip, MALUUU. Dikau tu dah tuo.”, kata Tomok sambil menunjuk sarung Sarip.
“Astagfirullah. Suailah warga
lari tadi, rupenye barang aku tededah. Ni dikau punye pasal, Mok. Memacam
kelaku pulak dikau perbuat tadi”, sungut Sarip sambil menutup yang terdedah
bebas dan ia pergi meninggalkan Manan serta Tomok.
“Hahahahaha......Wak Sarip tu dah
tuo tambah pulak dikau bekelaku macam-macam tadi. Hmmm alah, Mok Tomok”, kata
Manan sambil mencurah kopi.
“Buku ni dikau bace. Ekonomi
Kreatif Ala Atah Roy. Banyak inspirasi yang aku dapat dari buku ni. Macam dikau ni WAJIB membace ini. Sebab, banyak ulasannye tentang Kesenian, Penyair, Seniman, Teater, pokoknye semuenye ade dibuku ni. Dikau kan suke
dengan hal berbau keingin tahuan berilmu. Ha, dikau bantu dan beri lahan berekpresi pada
penukang kesenian ni. Dikau buatlah, program kesenian di kampung kite ni.
Sebab, kalau tak kite yang menghargai para seniman siape lagi. hidup itu seni,
Nan. Ingat! Dah, aku nak ke tempat Jang. Kami nak mengajukan bantuan proposal kesenian
untuk kampung kite ni”, kata Tomok sambil meminum kopi.
“Waw, emejing ni buku Mok.
Pinjamlah aku kejap", kata Manan penuh semangat.
"Pinjam? Hah, sedap cakap. Dikau belilah samo Atah Roy kampung sebelah tu. Tigo puluh Ribu rupiahnyo. Ulasan Atah Roy ni menarik, Nan", kata Tomok meyakinkan Manan.
"Okelah, kang aku beli dan aku lagi berusaha ni semampu
aku untuk memajukan kesenian di kampung kite ni. Malam ni aku buat programnye dan aku ajukan besok tempat kejo aku. Kalau bukan kite,
siape lagi. Ye tak?”, kata Manan.
Tomok pun pergi dan Manan merapikan buku-bukunya dan pergi untuk membeli buku "Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy".
* * *
Judul :
Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy
Penerbit :
Yayasan Pusaka Riau
Desain Sampul : Katon/
Hang Kafrawi
Harga :
Rp 30.000,- (belum include pengiriman)
Pemesanan bisa melalui Gmail penulis maupun kontak person dibawah ini:
0822 8308 8441 (Bisa melalui WA)

No comments:
Post a Comment