Wednesday, December 27, 2017

SENARAI NEGERI

Senarai kehidupan telah menjadi kisah
Bermula setapak cerita
Sejarah tertuang
Memapar negeri dalam tembang
Ragam budaya
Mengukir bahasa
Menjadi laman status negeri
Lancang kuning

Walau hempas ombak menghancurkan
simbol sebuah negeri melayu
lembayung senja terpancak kaku
Tapi, makna terjerat erat di dalam kisah itu
dan inilah lembaran-lembaran baru
Yang menguak rindu
Peradaban negeri yang terkuak
Telah berkisah
Tak kan berpisah
Hingga anak cucu lahir pada negeri

Lancang kuning terkembang dalam layar
Melahirkan sebuah butiran-butiran sejarah
Tanpa nahkoda, tak kan pernah berkisah

Tak kan melayu hilang di Bumi


Pekanbaru, 2016

NEGERI KOTA SENJA

Tah,
Terbayang aku saat kaki menjejak di kota senja syahdu
Mendekap tangan-tangan kotor lesap
Namun, Tah
Ketika bayang buyar dalam kenangan
Jalanan kota yang syahdu itu
Hanya risau berkecamuk,
Tersadai segala dalam perih luka
Tapi, Tah
Kemana hati nurani mereka
Yang meronggoh kantong bersisa debu rakyat jelata?
Merekakah itu bertopeng cadas
Yang penuh wajah-wajah tak bermalu aib
Hanya demi kepentingan materialistis dunia?

Tah,
Adakah kota syahdu dalam bayanganku itu?
Tanpa peras
Tanpa bengis
Tanpa tangis
Yang ada ribuan harapan masa depan?

Terakhir tah,
Hati nurani telah terkikis
saat lembaran dusta di hamparan beribu nyawa tergadaikan
kejam menghujam tajam
menusuk hati kecil tak lagi bersuara
Tah,
Kemana nak dituju pesan kecil ku ini tah?
Hukum karma belum berlalu
Tapi, beribu sumpah serapah busuk telah berlaku





Pekanbaru, 2016 

HILANG RANAH NEGERI KAMI

Hancurlah pelantar mimpi yang membisu
Hancurlah titian imaji yang terpancang membatu
Musnah bagai seribu panah
Yang hilang dari ranah
Seketika
Tak berbekas

Hoiii kawan
Adakah langkah engkau tapaki
Pada tanah tak bertuan itu?
Adakah luka tersayat perih pada hati
Bila tuan tanah itu berada?
Jangan engkau kufur nikmat
Bila satu ingin dua
Bila tak cukup ingin semua
Engkau penikmat dahaga
Yang membabi buta
Pada hasil pekerja
Melahap tiada ampun
Tak bersisa
Permata?

Hoii....kawan
Tiada lagi tanah kami
Yang bertuan pada hati
Berjaga dalam damai
Indah tiada tara?




Pekanbaru 2017


Tuesday, December 26, 2017

RENTA MALANG


Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh bunga bewarna-warni menikmati pemandangan. Tampak pengemis renta menadahkan tangan seperti meminta sekeping atau selembar uang untuk keberlangsungan hidupnya. Tepat di depanku beliau berdiri dengan pakaian lusuh dan rombeng sambil memegang sebuah gelas plastik bening  bungkus air mineral. Aku mulai meronggoh kocek saku, dan mengeluarkan uang yang aku rasa itu cukup untuk membeli makan malamnya hari ini. Tak sengaja aku menatap wajah pengemis renta itu tersenyum tapi tampak kaku.

“Ini, Buk. Semoga bermanfaat untuk ibuk dan keluaga ibuk.”, kataku dengan nada pelan.

Tetapi, pengemis renta itu masih tetap tersenyum sambil membungkukan badannya seperti mengucapkan terimakasih tetapi dalam bahasa tubuh dan ia mulai pergi menjauhiku. Terus aku memandangi pengemis renta itu dengan seksama.

Aku mulai melihat jam yang ada di tangan kananku. Waktu telah menunjukan pukul 19.00 WIB. Lalu aku bergegas pergi meninggalkan bangku taman, karena aku mesti menonton sebuah pertunjukan seni di sebuah gedung megah.

Selesai aku menyaksikan pementasan seni, aku melihat suasana di luar gedung yang mulai tampak sepi. Aku menuju ke pinggiran jalan raya, aku melambai tangan pada sebuah mobil taksi dan menaiki taksi itu. Di dalam mobil taksi aku melihat-lihat keadaan kota ketika malam tiba. Tak sengaja pandanganku melihat pengemis renta yang sebelumnya aku lihat tadi duduk dengan lesu di tepi halte bus yang begitu kumuh. Lalu aku menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya dan aku turun dari mobil. Bergegas aku pergi ke pengemis renta tadi dan aku melihat ia tampak menangis tersedu-sedu.

“Ibuk, kenapa menangis?”, tanyaku dengan rasa iba.

“Anak ibuk nak...tidak ada disini. Padahal dia belum makan nak.”, jawab ibuk renta yang masih menangis dan merangkul makanan untuk anaknya.

“Loh, anak ibuk memangnya kemana? Kenapa tidak bersama ibuk tadi?”, kembali aku bertanya.

Tetapi ibuk pengemis renta ini tidak menjawab. Ia menatapku begitu dalam. Tangannya yang reot itu memegang wajahku, lalu ia berdiri dan pergi meninggalkanku.

“Ibuk, mau kemana?”, kembali aku bertanya yang masih terasa gantung.

 Aku kembali masuk dalam taksi dan pergi melanjutkan perjalananku yang sempat terhenti tadi.

Keesokan harinya aku juga kembali mengunjungi taman kota. Memang aku suka mengunjungi taman kota setiap kali aku selesai menjalani aktifitas. Di taman kota inilah aku selalu melepas beban dan pikiran. Tampak seperti biasa, kota masih tetap terlihat riuh dan matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Sesekali aku menikmati pemandangan sebuah taman yang dekat dengan laut. Angin sesekali menyapa kulitku dan bermain indah dengan daun-daun yang bergesekan. Ibuk pengemis renta itu kembali datang dan lewat depanku, tetapi kali ini ia tidak menadahkan tangan. Hanya lewat begitu saja. Aku mencoba memanggil ibuk pengemis renta itu.

“Ibuk...”, kataku sambil menghampirinya.

“Ya nak...ada apa?”, jawabnya dengan nada rendah.

“Lupa ya sama saya yang semalam?”, tanyaku lagi.

“Siapa ya? Ibuk lupa nak.”, kata ibuk renta.

“Loh, saya yang menghampiri ibuk semalam di halte?”

Ibuk pengemis renta itu hanya terdiam dan tak lama ia menangis tersedu. Aku merasa heran dan sedikit merasa bersalah, apa ibuk ini ada masalah atau bagaimana.

“Loh, kenapa menangis, Buk? Ada masalah apa, Buk?”, tanyaku dengan penuh tanda tanya.

Ibuk itu masih tetap menangis. Lalu ia berdiri dengan kaki yang bergemetar dan ia meninggalkanku sama seperti yang ia buat kemarin. Kini aku diserang beribu penasaran, kenapa ibuk pengemis renta ini selalu menangis jika melihatku. Aku pun pergi melanjutkan aktivitasku.

Aktivitasku telah selesai. Aku kembali ke taman kota untuk menikmati suasana malam. Tetapi, dari kejauhan orang-orang berlari menuju persimpangan dan tampak juga sebuah mobil ambulance. Akupun bergegas menuju ke tempat keramaian itu.

“Maaf, kak ada kejadian apa, ya?”, tanyaku penuh kebingungan.
“Ada orang ketabrak mobil. Yang menabrak lari saat warga beramai-ramai datang.”, jawab seorang perempuan sambil menutup mulut.

Aku penuh kebingungan siapa orangtua itu. Lalu aku masuk disela-sela kerumunan. Sungguh aku tak sanggup menahan derai air mata ini, dan aku pun terhenyak sambil memeluk erat si ibuk pengemis renta. Anak ibuk pengemis renta yang hilang beberapa hari, kini ditemukan terbujur kaku bermandikan darah sambil memeluk foto ibunya.


Pekanbaru, 2017

SECUIL TENTANG EKSISTENSIALISME

     Menurut artian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Eksistensialisme merupakan aliran ilmu filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sedangkan artian dari salah seorang tokoh bernama Jean Paul Sartre adalah pandangan yang menyatakan bahwa eksistensi bukanlah obyek dari berfikir abstrak atau pengalaman kognitif (akal pikiran), tetapi merupakan eksistensi atau pengalaman langsung, bersifat pribadi dan dalam batin individu. 

   Dari artian di atas, merupakan pengertian umum dan pendapat tokoh. Masih ada beberapa pendapat tokoh lainnya, seperti Soren Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, Nietzche. 



Seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia sudah dikatakan bahwa bayi tersebut seorang eksistensi. Karena dari beberapa artikel dan bacaan yang penulis ketahui dan menyimpulkan, bahwa Eksistensi merupakan keberadaan seseorang di atas dunia. Maksudnya, Eksistensi menerangkan bahwa seseorang itu berhak menyatakan bahwa ia seorang eksistensi. Dari sisi Jean Paul Sartre memaparkan beberapa pemikirannya, salah satunya yaitu “Kebebasan”. Yang dimaksud kebebasan disini yaitu manusia yang telah lahir hidup di dunia ini telah dinyatakan “bebas”, karena ia telah berhak menentukan dan memutuskan mau dibawa kemana kehidupannya kelak. Dari segi religius, Allah telah menentukan hidup tiap manusia. Mau dibawa kemana kehidupan manusia kelak, ia (manusia) yang akan menjalankannya. Tetapi, dari pemikiran dan pendapat Sartre, ia tidak mengakui Tuhan dan aliran Eksistensialisme Sartre dikatakan atau digolongkan sebagai aliran pesimisme (buruk) atau atheis.

Manusia diutus ke dunia ini untuk mencari keberadaan (eksistensi) dan ia yang akan menentukan keberadaan seperti apa yang akan dijalankannya. Kierkegaard menyatakan ada 3 tahap bereksistensi, yaitu: tahap estetis (tahap menentukan tindakan baik dan buruk), tahap etis (tahap seorang manusia telah mengetahui dan mempertimbangkan baik atau jahat dalam sebuah tindakan), tahap religius (tahap manusia memeluk kebenaran, menghayati hidup dengan penuh gairah). Pada pemikiran Soren Kierkegaard, ia mendekati diri pada sebuah paham religius, berbeda dengan Jean Paul Sartre.

Pada pemikiran seorang Filsuf Eksistensialisme Nietzche pada konsepnya Übermensech menerangkan bahwa membuat manusia yang lebih berani kuat, cerdas, dan hebat sehingga manusia dapat lepas dari kehanyutan suatu hegemoni sehingga manusia itu mampu mempunyai jati diri yang sesuai dengan dirinya dan ditentukan oleh dirinya tanpa di kekang norma dan nilai yang berlaku. Sebab, norma dan nilai diciptakan oleh manusia itu sendiri. Pada pandangan Nietzchhe ini, mengungkapkan manusia itu haruslah menyadari siapa dirinya dan apa yang diinginkannya sehingga ia akan cinta kehidupan. Untuk menjadi seorang yang Übermensech, seseorang itu harus mempunyai keberanian untuk memusnahkan nilai-nilai lama.

Eksistensialisme disisi lain juga dapat dipahami sebagai reaksi kritis terhadap agama dan lembaga-lembaga politik yang sudah tumbuh sebagai sebuah sistem. Contohnya, pada buku Panggung Teater Dunia (Yudiaryani) memaparkan, Satre (1905-1980), merupakan tokoh eksistensialis terkenal, dimana ia menolak kehadiran “Tuhan” yaitu arahan absolut yang diberlakukan pada tatanan kemanusiaan, dan keabsahan kode-kode moral yang harus dipatuhi. Ia menyimpulkan bahwa ketika tak satu pun institusi semacam gereja, negara, masyarakat yang membuat tatanan yang harus kita patuhi, tidak dapat menjelaskan kegunaan dan standard tersebut, manusia “diwajibkan bebas”. Manusia bebas untuk memilih nilai secara individu yang dapat memuaskan kebutuhan dasarnya. Selanjutnya ia mengeluhkan bahwa hilangnya toleransi terhadap nilai yang harus dianut oleh orang lain merupakan sikap imoral.

Satre yang mendukung ajaran tentang kebebasan mutlak, akhirnya harus berhadapan dengan keterbatasan yang justru mengurangi kebebasan manusia. Keterbatasan tersebut adalah:
  • Kekuasaan orang lain. Dimana pada karya Satre Les Mains Sales berceritakan bagaimana kekuasaan orang lain akan mempengaruhi dan membatasi eksistensi seseorang. Untuk itulah diperlukan kemerdekaan manusia sebagai cara seseorang melepaskan diri dari pengaruh dan tekanan orang lain.
  • Kematian. Dimana kematian ini merupakan hal yang tak dapat dipahami oleh pikiran manusia, dan juga tak terelakkan serta tak terduga kehadirannya. Dan kematian merupakan suatu kepastian tiap orang yang hidup. Karena manusia tidak berdaya ketika berhadapan dengan kematian.

Dari poin pertama dapat saya simpulkan, bahwa seseorang yang ingin bebas dan tidak ingin lagi akan adanya hal yang terikat, dipengaruhi dan dibatasi oleh yang namanya kekuasaan. Dimana seseorang ditekan dan dipengaruhi untuk suatu kekuasaan itu. Maka dari itu, Satre dengan suatu konsepnya ini menjadi suatu gerakan intelektual pada tahun 1950-an, setelah PD II.

Dalam kondisi inilah, Eksistensialisme memberi sumbangan bagi manusia untuk menemukan jati dirinya. Paham eksistensialisme mengungkapkan otentisitas keinginan manusia yang mendasar, dan keinginan manusia untuk bebas memilih, serta bebas mencipta nilai bagi diri mereka sendiri.

Ada suatu paham dan ini sering juga terpengaruh oleh kaidah Sokrates (kenalilah dirimu lewat dirimu), dimana aliran filsafat Stoicisme,  pergerakan yang mengkampanyekan atheisme dan liberalisme. Pada saat PD II, dimana persaan takut terhadap kefatalan saat itu, memunculkan suatu aliran eksistensialisme dengan cepat, dimana malapetaka PD II dan kehancuran dunia akibat perang merupakan pengalaman pahit yang harus ditelan kemanusiaan, iklim seperti ini sangat mendukung lahirnya paham eksistensialisme dengan paksaan dan interprestasinya (pandangan), perasaan yang gundah dalam jiwa manusia merasa bahwa alam menuju kehancuran). Dan untuk itulah mereka mengklaim bahwa eksistensi sejati hanya milik manusia, pada gilirannya ia bebas menciptakan dan memilih sesuatu sekehendaknya.

MOTOR MERAJUK

Pemuda ini merupakan pemuda yang suka berbanyol dan membuat cerita sesuai dengan kehendak hatinya. Ia sering dipanggil dengan nama Tomok. Jika orang-orang mendengar nama Tomok, mereka sudah tahu kalau itu adalah pemuda penuh banyol dan pengarang cerita terhebat diantara kawan-kawannya, karena ceritanya berisi dengan kebohongan belaka.
            
Di suatu siang mereka hendak pergi ke tempat dimana mereka ingin menonton pertandingan model wanita termansyur. Tomok dengan temannya sebut saja Bai orang minang. Sebelum mereka hendak pergi dengan motor kaptul 70 yang klasik, tiba-tiba Tomok merasa ingin buang air kecil tetapi si Bai sudah stanby di atas motornya yang klasik itu. Sudah 5 menit berselang, Tomok belum menunjukan batang hidungnya di hadapan si Bai. Merasa gelisah si Bai langsung menghampiri si Tomok. 

“Manolah Tomok ko, tak ado nampak batang hiduangnyo. Wak lah nunggu limo minit, tak juo besuo. Jiko wak pai ka tampeknyo, motor sia yang jago. Beko dimatian motor ko, tak bisa pulo iduik-iduik...handeh, jalan pintas berjalan di pikiran denai...terpaksolah motor ko awak tinggalkan sabanta.” Si Bai pun pergi menyusul ke dalam Rumah Tomok.

Tetapi Tomok keluar lewat pintu samping, dan ia terkejut melihat motor si Bai yang tinggal sendiri di depan rumahnya.

“Aih mak, apo kesah budak si Babay tu. Motor di tinggal begitu sajo, sempat ado yang mencuri motor ni, siapo yang meraso gelisah? Aku jugo yang gelisah. Hah, tambah pulo motor yang masih stanboy, tambah sodap tu penyamun mengambiknyo..hah.”, Tomok pun mematikan motor si Bay, dan ia pergi lewat pintu belakang tadi.
            
Tak lama kemudian, si Bay keluar dari rumah Tomok.

“Ondeh mandeh, motor kalasik den mati. Ba’a nio pai ko? paling pantang motor aden mati. sia yang matian motor den ko? Kalau lah mati si Kalasik den, alamatlah marajuaklahnyo. Ko pasti karajo si Tomok. Mok...Tomok...”, kata si Bay yang gelisah pada motornya yang sudah mati merajuk.

“Apo Bay, tepekak sano tepekak sini? Tak baik di dengo Mak Itam. Apo kesah dikau ni? Dikau ni jugo motor di tinggal begitu ajo? Nasib baik ado aku, tak hilang motor kalasik dikau tu. Ha..ditambah jugo motordalam keadaan hidup, jiko ado penyamun macam mano? Hilang sudah motor babay dikau tu, aku jugo yang gelisah.”, marah dengan tegak pinggang di depan pintu.

“Aih Mak, kau kironyo matikan motor aden. Lah aden dugo, ba’a nio di iduikkan motor aden ko? Alah marajuak motor den ko ha..macam tak tahu parangai motor den ajo. Ko gadis den ko tahu kau tak?”, marah sambil menstarterkan motor klasiknya yang tak hidup-hidup.

“Eleh, ado pulo motor punyo jenis jantan betinonyo. Lagian jugo, ado pulo motor bisa merajuk. Macam iyo beno motor dikau ni. Tadi aku tengok, ado orang yang mencurigokan, dio tengok-tengok motor dikau. Jadi aku intiplah lewat semak-semak hitam belukar, eh maksud aku semak-semak daun pandan samping rumah aku, ha selepas tu dio datang perlahan terus mendekat ke motor dikau, dan hampir memegang motor dikau lagi..HOY! tu aku cakap tadi. Ha selepas tu, budak penyamun tu nak melawan aku, lumayan beso badannyo terus aku lawan dengan jurus kunyuk melempar buah ala mak inam, habis tu tergopoh-gopoh dio lari. Ha baru dengo kato jurus kunyuk melempar buah ajo dah takut, apo lagi bentuk jurusnyo gali kubo, iyo.” Menceritakan dengan ekpresi yakin dan di peragakan langsung.

“I...Iyo tu, Mok? Lai mantap seperegen den ko mah. Tak apo lah motor den marajuak dari pado hilangnyokan? Ha tapi..tapi macam mano awak nak pai ke tampek perlombaan model tu?” tanya si Bay.

“Tak usah di risaukan lagi, Bay. Imahkan ado, dio ajo yang kito jadikan model pado dinding kamar kito. Tak usah dirisaukan lagi.” Sambut Tomok dengan tenang.

Akhirnya, mereka berdua tak jadi pergi ke tempat perlombaan model wanita. Si Bay pun memasukan motornya ke dalam rumah Tomok. Saat di depan pintu mau memasukan motornya, tiba-tiba rantai motornya lepas dan si Bay langsung merajuk sehingga tidak pergi ke tempat model Imah untuk pajangan dindingnya, dan Tomok tergopoh-gopoh ke kamar mandi untuk melaksanakan panggilan alamnya.


Pekanbaru, 28 Februari 2013


KEJANG-KEJANG POLISI



Cerita ini masih bekisar tentang pemuda yang penuh dengan cerita banyolan dan kebohongan belakanya, Tomok. Kali ini ia kembali mulai menceritakan tentang kebohongan belakanya pada seorang polisi jalanan. Mari, kita baca ceritanya.

Pada suatu hari, Tomok dan temannya yang bernama Ijal dan anaknya pergi berdua naik kendaraan motor. Mereka berdua hendak pergi ke Mall untuk membeli sendal jepit Tomok yang putus di curi oleh anjing Pak Regar tetangga kampung sebelah. Suatu ketika, mereka hendak memasuki area jalan raya. Pada saat sudah memasuki jalan raya, Ijal terkejut melihat Tomok yang tidak memakai helm.

“Mok, mana helm kau?”, tanya Ijal kepada Tomok.

“Aih, ngapo pulo pakai helm, tak payah lah.” , jawab Tomok.

“Tak payah macam mana sekarang ni, kita di jalan raya Mok. Engkau tahulah polisi banyak di jalan raya mencari nafkah untuk bininya. Engkau tu mengundang polisi melihat kita sekarang.”, kata Ijal yang sedikit agak kesal.

“Dikau kesal dengan aku, kenapo dikau tak kesal jugo dengan anak dikau yang tertido tu? Diokan tak pakai helem jugo. Makonyo aku tak berhelem, sebab aku lihat anak engkau tu tak pakai helem. Kang plesing jugo dikau ni, hah.”, jawab Tomok dengan santai.

“Alahmak jang. Kenapa kau tiru anak aku ni. Dah tahu dia anak kecil baru berumur jagung, kau tiru pula. Kau tu dah besar Mok, dah pandai buat anak kenapa pemikiran kau masih begitu juga. Aduh..aku tak ada uang pula ni Mok, mau mutar di depan ada polis pula.”, kata Ijal dengan cemas dan kesal.

“Hahahaha, tak payahlah, Jal. Lewat ajolah, bio aku cakap pado polisi tu. Macam tak tahu beno aku
ni siapo.”, kata Tomok dengan gaya berwibawa.

Tak lama kemudian akhirnya mereka melewati pos polisi. Tetapi, mereka tidak lewat dengan free, mereka dilihat oleh polisi dan mengejar mereka. Saat polisi berada di samping mereka, Tomok mulai berulah.

“Maaf, tolong motor anda minggir ke tepi dahulu.” , kata polisi sambil memutarkan motornya ke tepi
jalan.

“Ada apa ya, pak?” , tanya Ijal yang pura-pura tidak tahu.

“Maaf, anda melanggar peraturan lalu lintas, karena penumpang anda tidak memakai persyaratan lalu lintas.”, jawab polisi.

“Aih, ado pulo persyaratan lalu lintas yo, Cik?” , tanya Tomok.

“Bisakah anda memperlihatkan SIM dan STNK anda?”, tanya polisi.

“Aduh pak, hanya tidak pakai helm saja masa kami harus di tahan beginian.” , kata Ijal.

“Cik, kami-kami ni nak ke Rumah Sakit. Beriba hatilah Cik, anak ni tadi kejang-kejang di Jalan Cik Puan, ha cubo Cik bayangkan, macam mano kalau anak pak Cik kejang-kejang, apo Cik kepikiran pado helem? Tak sempat bepikir do, Cik. Aih kasihan budak anak Ijal ni.”, sambil mengelus anak Ijal yang sedang tertidur puas.

“Tetapi peraturan harus dilakukan, Pak. Kami sebagai Polantas harus mematuhinya. Jika anda mengenakan helm, tidak akan terjadi seperti ini.” , kata polisi dengan tegas.

“Kan, dah sayo katokan tadi, macam mano nak pakai helem, Cik, anak ni dah kejang-kejang, badan panas pulo lagi. Mau Pak Cik tanggung anak ni kalau dio Setep?”, kata Tomok sambil mengendong anaknya Ijal.

“Setep? Apa itu setep?”, tanya polisi.

“Ah, maksud dia pak, Step mungkin pak. Hah ya step yang penyakit kejang-kejang mengeluarkan busa dari mulut tu, pak.” , perjelas Ijal.

“Alah, macam cikgu pulo dikau ni, salah satu kato ajo di permasalahkan. Hah, jadi pak Cik Polisi Polantitas? Now, Apo kesah sekarang ni, nak nunggu budak kecik ni Ko’it yang doso ditanggung samo pak Cik, atau mendapat pahalo dah nolong budak ni?”, Tomok semakin mulai marah pada polisi tersebut.
“Maaf pak, tapi peraturan....”, kata polisi yang gugup dan disambut langsung dengan Tomok.

“Peraturan apo lagi ni Cik, tak kasihan Cik dengan budak satu ni? Jike dio Ko’it alias Died alias mati, aku tak segan nak terajang pak Cik, biolah pak Cik pangkat beso yang penuh bintang-bintang garis tu, hah. Mano pak cik pilih? Jawab sekarang jangan lamo-lamo, kang mengamuk pulo aku.” Marah Tomok menjadi-jadi. Polisi pun bingung dan menelpon ketua pos tempat ia jaga, dan di setujui oleh ketuanya.

“Baiklah kalau begitu, pak. Saya persilahkan bapak untuk melanjutkan perjalanannya agar anak ini selamat dari penyakit kejang-kejangnya. Dan juga sekali lagi saya minta maaf telah memperlambat perjalanan bapak ke rumah sakit, lain kali pakailah helmnya saat di jalan raya, guna menyelamatkan anda dari kecelakaan khususnya pada kepala. Sekarang silahkan bapak melanjutkan perjalanan.” Tegas polisi pada Tomok dan Ijal.

“Hah, gitu donk pak dari tadi kenapa sih. Kasihan anak saya ini.” , kata Ijal pada pak polisi.

“Terimokasih yo Cik, semoge amal dan ibadah pak Cik Polisi diterima oleh Allah. Amin. Kalau begitu, kami nak pergi dulu, nampaknyo dah mulai ado gejalo lagi pada anak ni. Yo pak Cik, terimokasih?”, kata Tomok pada polisi sambil menaikan anak Ijal di atas motor.

“Ya, pak sama-sama. Hati-hati pak dan juga ikuti aturan rambu-rambu lalu lintasnya, pak.”, pak polisi pun mulai berangkat.

 “Mantap juga ide kau ya, Mok? Tak percaya aku dengan ide gila kau tadi. Tapi, tak sedap pula anak aku yang jadi bahan topik pembincangan kebohongan belaka tadi.” Kata Ijal.

“Tak apolah, dari pado uang awak keno sembat oleh pak Cik Polis tadi. Hidup tu harus pandai-pandai wak. Kalau diharap dari dikau tak ado do, namo ajo Ijal, indak jaleh.” , kata Tomok sambil mencemeeh Ijal.

“Biasa ajalah, jangan nama pula yang jadi bahan ejekan, tidak boleh dalam aturan ibu-ibu rumah tangga. Dahlah, pergi kita lagi.” Kata Ijal sambil menghidupkan motornya yang hendak mulai pergi.

Ketika motor sudah di hidupkan, mereka berdua pun pergi berangkat sambil berpamitan pada polisi tadi. Disaat mereka sudah jalan, polisi pun mulai pergi dan sekilas polisi itu melihat BM mereka yang pajaknya sudah mati, hingga akhirnya polisi tersebut pergi mengejar mereka lagi.




Pekanbaru, 4 Maret 2013


SENJA YANG RENTA

SENJA YANG RENTA Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh...