Teater
Mendu merupakan teater tradisi/ teater bangsawan bernuansa kerakyatan. B.M. SYAMSUDIN (1987), mengatakan bahwa
mendu yang berkembang di daerah Buguran berasal dari Wayang Parsi yang
berkembang di Pulau Penang sekitar tahun 1780-1880. Dahulu mendu hanya
dimainkan oleh kaum laki-laki, namun sekarang mulai tahun 70-an, tidak hanya
milik laki-laki semata tetapi perempuan juga ikut ambil bagian dalam pementasan
mendu. Kesenian mendu menyebar diberbagai tempat yaitu Bunguran Timur (ranai
dan sepempang), Siantan (terempa dan langi), dan Mindai serta Tanjung Pinang.
Kesenian
tradisional dulunya merupakan bagian dari adat istiadat atau ritual kepercayaan
yang sakral. Akan tetapi, pada perkembangannya, unsur seni dan hiburannya
semakin menonjol, sementara unsur sakralnya semakin berkurang bahkan
dihilangkan. Begitu pula teater mendu. Dahulu, teater ini dimulai dengan
ritual-ritual tertentu yang tujuannya memanggil roh-roh untuk hadir dan menjaga
selama pertunjukan berlangsung.
Keunikan
cerita teater mendu ini adalah cerita yang dilakonkan/dimainkan tanpa
menggunakan naskah. Dialog yang digunakan merupakan tarian dan nyanyian. Adapun
lagu-lagu dinyanyikan antara lain: Air Mawar, Jalan Kunon, IlangWayat, Perang,
Beremas, Ayuhai, Tale Satu, Pucok Labu, Sengkawang, Nasib, Numu Satu Serawak,
Setanggi, Burung Putih, Wakang Pecah, Mas Merah, Indar Tarik Lembu, Numu Satu,
Lemak Lamun, Lakau, dan Catuk. Sedangkan tarian-tariannya adalah: Air Mawar,
Lemak Lamun, Lakau, Ladun, Jalan Runon, dan Baremas.
Teater
tradisi Mendu bisa digolongkan sebagai teater bangsawan yang merupakan prototype teater
tradisional yang umumnya terdapat di Sumatera dengan latar belakang pendukung
dominan; rumpun budaya Melayu. Kesenian tradisional ini dikenal menjelang awal
abad ke- XX. Pengaruh teater bangsawan banyak ikut campur dalam urusan ini
seperti menggunakan panggung secara lengkap dengan layar sebagai dekorasi.
Karena jamaknya, hingga terasa banyak kesamaan antara Mendu dan Wayang
Bangsawan. Sepanjang hayatnya adaptasi bangsawan mendapat ciri-ciri khasnya
sendiri. Ia mulai menyerap unsur-unsur setempat misalnya nama-nama tempat dan
istilah-istilah lokal dan kebiasan-kebiasaan yang lazim dalam Wayang Bangsawan.
Dari
penelitian dan literatur dapat dihimpun sebuah penjelasan bahwa sumber utama
yang menjadi dasar lakon Mendu ini adalah cerita hikayat tentang Jewa,
jin dan putri-putri seperti disadur lakon Komidi Stambul dari hikayat 1001
malam epos atau cerita lama dan unsur cerita rakyat lokal. Kadangkala dicampur
juga dengan keadaan kehidupan masyarakat setempat. Sementara musik adalah
bagian integral dari pertunjukan ini, dimana naskah dan alur cerita dikisahkan
oleh oleh Mahnijar (sutradara) secara lisan kepada para pelaku. Pementasan
ini dilakukan di atas panggung dengan dekorasi yang sangat sederhana yaitu
lukisan di atas kain atau triplek yang menggambarkan hutan, istana dan
sebagainya selaras dengan seting cerita yang dibawakan.
Cerita
yang dimainkan dalam teater mendu adalah Hikayat Dewa Mendu. Konon, pementasan teater
mendu ini dipentaskan selama tujuh hati tujuh malam berturut-turut. Tetapi,
sesuai dengan perkembangan zaman tidak lagi mementaskan teater mendu selama
itu, melainkan mengambil fragmen perbabak dari naskah tersebut.
Cerita
itu terbagi dalam tujuh episode. Ketujuh episode tersebut sebagai berikut:
1. Episode pertama, menceritakan kehidupan di kayangan dan
turunnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke
dunia yang fana
2. Episode kedua, menceritakan berpisahnya Dewa Mendu dengan
Siti Mahdewi akibat perbuatan jin jahat yang diutus oleh Raja Laksemalik
3. Episode ketiga, menceritakan perjalanan Siti Mahdewi,
kelahiran anaknya yang kemudian diberi nama Kilan Cahaya, dan perjumpaannya
dengan Nenek Kabayan
4. Episode keempat, mengisahkan tentang perjalanan Dewa
Mendu yang kemudian sampai di sebuah kerajaan yang rajanya bernama
Bahailani
5. Episode kelima, menceritakan perjalanan Dewa Mendu ke
sebuah kerajaan yang rajanya bernama Majusi.
6. Episode keenam, menceritakan perjalanan Dewa Mendu ke
sebuah kerajaan yang rajanya bernama Firmansyah
7. Episode ketujuh, mengisahkan bagaimana Dewa Mendu bertemu
dengan Kilan Cahaya yang diawali dengan perkelahian antar keduanya. Cerita Dewa
Mendu ini dapat dimainkan dalam beberapa versi, namun inti ceritanya tetap
sama.
Tokoh-tokoh
dalam seni pertunjukan Mendu, di samping Dewa Mendu adalah: Angkara Dewa, Siti
Mahdewi, Maharaja Laksemalik, Kilan Cahaya, Nenek Kebayan, Raja Bahailani, Raja
Majusi, Raja Firmansyah, Raja Beruk, dan tokoh-tokoh pendukung lainnya yang
jenaka seperti Tuk Mugok dan Selamat Salabe. Kedua tokoh ini seperti tokoh
Punakawan dalam pewayangan yaitu sebagai humoris dalam cerita Mendu. Oleh
karena itu, mereka menjadi bagian yang penting dan sangat disenangi oleh
penonton.
Pertunjukan
dibuka dengan ladun yaitu tarian pembuka. Para pemain keluar berpasang-pasangan
dan berperan sebagai rakyat jelata serta wakil rakyat, mereka menari sambil
berpantun. Selesai berladun, beduk ditabuh dan para pemain mengambil posisinya
masing-masing. Tontonan rakyat ditutup dengan Beremas yang artinya berkemas-kemas
untuk pulang. Yang unik pada bagian Beremas ini adalah lagunya dikemas
menyentuh perasaan, tidak ada penonton yang bercucuran air mata mendengarnya.
Untuk
pementasan pemainnya berjumlah minimal 25 tetapi lebih baiknya 35 orang karena
dengan itu pembagian tugas sama. Panggung yang digunakan untuk pementasan
adalah berukuran 4x14 meter yang terdiri atas tiga bagian yaitu ruang rias,
balai penghadapan, dan area berlandun. Pementasan mendu ini mempunyai urutan
yaitu urutan pertama pertunjukan diawali dengan pengantar yakni pemberitahuan
bahwa mendu akan dipentaskan dengan memukul alat perkusi. Kedua madah yang
dilakukan oleh Syekh. Ketiga berlandun yaitu semua pelakon menari dan bernyanyi
bersama membentuk lingkaran, lalu berpasangan dan berpantun yang berisi ucapan
selamat datang serta permohonan maaf jika nanti pementasan kurang memuaskan.
Keempat para pelakon menyanyikan lagu wayat. Kelima adegan pertama
menggambarkan suasana kerajaan. Keenam pementasan Mendu, dan Ketujuh penutupan
atau beremas.
Pementasan
Teater Mendu pernah dipentaskan dan digarap oleh sanggar Teater Matan di
Pekanbaru. Monda Gianes selaku sutradara (Mahnijar) dalam garapan mendu
memodifikasi cerita mendu yang sudah ada menjadi sebuah bentuk baru sesuai
dengan kebutuhan zaman saat ini serta tidak menghilangkan esensi-esensi penting
dalam cerita mendu. Hanya saja para pelakon dituntut melakukan sebuah
improvisasi agar jalan cerita tersampaikan sesuai dengan plot yang telah
diarahkan oleh sang sutradara (Mahnijar). Itu yang membedakan teater
tradisional dan teater modern. Pada teater modern, aktor terikat pada
naskah untuk setiap pementasan. Sementara pada teater tradisional, naskah hanya
menjadi rambu untuk aktor. Selain naskah, faktor penonton juga menjadi pembeda
teater tradisional dengan teater modern. Pada teater tradisional, termasuk
mendu, penonton menjadi bagian dari pementasan. Penonton dapat berinteraksi
dengan aktor yang berada di panggung. Sedangkan pada teater modern,
penonton bukan bagian pementasan. Jadi, ada batas yang tegas antara penonton
dan aktor pada teater modern.
Semoga kehadiran Teater Mendu digenerasi zaman sekarang akan
menjadi sebuah pertunjukan yang menarik minat masyarakat khususnya di
Pekanbaru, Riau. Karena kalau tidak pada generasi sekarang sebagai penerus
teater tradisi yang ada di daerah kita masing-masing, siapa lagi yang akan
mempertahankannya. Sekian ulasan yang masih banyak kekurangan ini dan penulis
berharap semoga para pembaca dapat memberikan masukan dan kritik saran yang
membangun.
SUMBER:

